Suatu pagi di sudut kamar ketika sedang asyik membaca buku.
A: Apa yang akan kau pilih, seandainya kau harus memilih di antara mencintai & dicintai?
B: Pilihan sulit. Aku akan pilih keduanya.
A: Hahaha, tentu semua orang mengharapkan kondisi ideal itu.
B: Tentu. Tak ada jawaban yang lebih baik dibandingkan itu. Mencintai & dicintai ibarat sepasang sayap, akan timpang bila tak ada salah satunya.
A: Bagaimana bila kau harus memilih salah satu?
B: Hm, mungkin aku akan lebih memilih mencintai.
A: Mengapa? Bukankah banyak orang bilang, kebanyakan wanita lebih memilih dicintai ketimbang mencintai?
B: (menerawang) Entahlah. Mungkin karena aku baru bisa merasa dicintai ketika aku mencintai.
Aku tertegun sejenak, lalu kembali tenggelam dalam buku.
A: Suara batin 1
B: Suara batin 2
Ps: Secara random & tidak memedulikan relevansinya, terinspirasi ketika membaca salah satu adegan dalam "Kitab Komik Sufi 2" di bawah ini.
22.2.15
17.2.15
Perjalanan
Andai saja dari awal kita sadar bahwa hidup kita di dunia ini adalah sebuah perjalanan panjang, mungkin kita tak akan banyak menghabiskan waktu untuk mampir ke tempat-tempat yang sebenarnya tidak perlu kita kunjungi. Perjalanan yang panjang membutuhkan rencana. Maka duduklah sejenak. Merenung. Berpikir. Mau kemana tujuan kita?
Nantinya, kita akan tahu kondisi seperti apa yang kita inginkan di penghujung hidup kita. Hidup seperti apa yang ingin kita jalani. Kita juga akan tahu bagaimana caranya kita menuju tujuan itu. Apakah lewat darat, laut, atau udara. Apakah dengan pesawat, kapal, atau kereta.
Kita pun akan tahu apakah nanti kita butuh teman perjalanan. Orang-orang dengan tujuan yang sama suatu hari akan dipertemukan. Mereka mungkin akan satu bangku duduk di kereta. Tidak perlu memaksakan diri mencari teman seperjalanan. Mungkin akan ada teman yang mau duduk sebangku dengan kita karena ternyata tujuan perjalanan kita sama dengannya. Mungkin juga ternyata sudah ada orang yang duduk di bangku sebelah kita yang akan menjadi teman seperjalanan. Teman baru, yang mungkin belum kita kenal rupa, tutur, dan lakunya.
Bagaimana jika ternyata tak ada yang mau menemani? Tetap genggam mimpi kita, terus berjalan ke arahnya. Seharusnya kita tahu apapun yang kita miliki dan tidak miliki adalah yang terbaik untuk kita. Dan seharusnya kita tahu, orang yang bisa bersama kita adalah orang yang memang ingin berjalan dengan kita, mengiringi langkah kita sama panjang-pendeknya. Bukan lebih cepat. Bukan lebih lambat. Apalagi lain tujuan.
Andai saja dari awal kita sadar.
Nantinya, kita akan tahu kondisi seperti apa yang kita inginkan di penghujung hidup kita. Hidup seperti apa yang ingin kita jalani. Kita juga akan tahu bagaimana caranya kita menuju tujuan itu. Apakah lewat darat, laut, atau udara. Apakah dengan pesawat, kapal, atau kereta.
Kita pun akan tahu apakah nanti kita butuh teman perjalanan. Orang-orang dengan tujuan yang sama suatu hari akan dipertemukan. Mereka mungkin akan satu bangku duduk di kereta. Tidak perlu memaksakan diri mencari teman seperjalanan. Mungkin akan ada teman yang mau duduk sebangku dengan kita karena ternyata tujuan perjalanan kita sama dengannya. Mungkin juga ternyata sudah ada orang yang duduk di bangku sebelah kita yang akan menjadi teman seperjalanan. Teman baru, yang mungkin belum kita kenal rupa, tutur, dan lakunya.
Bagaimana jika ternyata tak ada yang mau menemani? Tetap genggam mimpi kita, terus berjalan ke arahnya. Seharusnya kita tahu apapun yang kita miliki dan tidak miliki adalah yang terbaik untuk kita. Dan seharusnya kita tahu, orang yang bisa bersama kita adalah orang yang memang ingin berjalan dengan kita, mengiringi langkah kita sama panjang-pendeknya. Bukan lebih cepat. Bukan lebih lambat. Apalagi lain tujuan.
Andai saja dari awal kita sadar.
Random Sebelum Mandi
Mengapa lelah? Sementara Tuhan selalu menyemangati dengan "Hayya alal falah". Bahwa jarak kemenangan hanyalah berkisar kening & sajadah.
-----
Pernahkah berusaha tampil baik ketika menghadap Tuhan? Baju rapi, kulit bersih, pakaian wangi? Pernahkah cemburu ketika ada yang lebih dekat dengan Tuhan? Pernahkah terpikir bagaimana agar Tuhan senang? Apakah selalu senang berbincang dengan-Nya & selalu ingin lama-lama berinteraksi dengan-Nya?
Apakah benar-benar cinta?
-----
Kenapa bilang percaya tapi tidak mempercayakan? Kenapa gelisah sedangkan seharusnya berserah? Kenapa takut mempercayakan hidup pada Pemilik Kehidupan?
-----
Pernahkah berusaha tampil baik ketika menghadap Tuhan? Baju rapi, kulit bersih, pakaian wangi? Pernahkah cemburu ketika ada yang lebih dekat dengan Tuhan? Pernahkah terpikir bagaimana agar Tuhan senang? Apakah selalu senang berbincang dengan-Nya & selalu ingin lama-lama berinteraksi dengan-Nya?
Apakah benar-benar cinta?
-----
Kenapa bilang percaya tapi tidak mempercayakan? Kenapa gelisah sedangkan seharusnya berserah? Kenapa takut mempercayakan hidup pada Pemilik Kehidupan?
5.8.14
Melamun
Akibat cinta tapi belum ada ikatan, berkali-kali rela jantung dihujam rindu–ditikam cemburu.
Hati, sudikah kau mati suri lagi?
Hati, sudikah kau mati suri lagi?
30.6.14
[PUISI] Gede-Pangrango
Angin & kabut telah menyelimuti pepohonan
ketika kaki kita kembali menapak dari singgasana bidadari
Baru saja kita duduk lesehan di sana
dibuai mega yang cahayanya menyinari wajah-wajah kita
Juga bunga-bunga yang manis di Surya Kencana
Imaji rumpun edelweis di Mandalawangi
Jika entah angin apa mampu mempertemukan kita kembali,
masihkah kau seperti dahulu?
Mendongengkanku tentang bunga-bunga mungil yang putih di Lembah Kasih
juga syair-syair tentang serpihan surgawi di perjalanan kita
Aku akan sangat rindu padamu, Gede-Pangrango
Tapak sepatu yang beradu dengan bebatuan terjal berliku
Bulir butir peluh & air mata, selang-seling napas & jantung kita yang menderu
Juga celoteh penghibur & selongsong semangat dari tiap kita
Menerobos misteri yang bergelayut di balik pohon-pohon, di balik batu-batu
Perjalanan ini mengingatkanku pada satu sajak bahwa hidup adalah soal keberanian
menghadapi yang tanda tanya
Kurasakan itu dalam pengembaraanku bersamamu
Kurasakan itu dalam kerinduanku pada Gede-Pangrango
Jakarta, akhir Juni 2014
ketika kaki kita kembali menapak dari singgasana bidadari
Baru saja kita duduk lesehan di sana
dibuai mega yang cahayanya menyinari wajah-wajah kita
Juga bunga-bunga yang manis di Surya Kencana
Imaji rumpun edelweis di Mandalawangi
Jika entah angin apa mampu mempertemukan kita kembali,
masihkah kau seperti dahulu?
Mendongengkanku tentang bunga-bunga mungil yang putih di Lembah Kasih
juga syair-syair tentang serpihan surgawi di perjalanan kita
Aku akan sangat rindu padamu, Gede-Pangrango
Tapak sepatu yang beradu dengan bebatuan terjal berliku
Bulir butir peluh & air mata, selang-seling napas & jantung kita yang menderu
Juga celoteh penghibur & selongsong semangat dari tiap kita
Menerobos misteri yang bergelayut di balik pohon-pohon, di balik batu-batu
Perjalanan ini mengingatkanku pada satu sajak bahwa hidup adalah soal keberanian
menghadapi yang tanda tanya
Kurasakan itu dalam pengembaraanku bersamamu
Kurasakan itu dalam kerinduanku pada Gede-Pangrango
Jakarta, akhir Juni 2014
| Dari kiri ke kanan: Mas Fajar, Dian, Mba Bella, Hadi, Mba Lina, Mas Amri |
3.2.14
[PUISI] Cinta
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa
- SHG, 11 November 1969
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa
- SHG, 11 November 1969
13.1.14
Monolog - Dialog
1) Taman Maya
Hei, kamu, aku sangat menyukai dia.
Astaga, sebegitunya hatimu gundah-gulana karena dia, sampai-sampai menyapaku hanya dengan satu kalimat barusan di pagi buta.
Mungkin karena aku ingin mengungkapkannya tapi tidak bisa?
Rasanya hati dan pikiranmu harus dialihkan ke kerja fisik. Atau, kenapa tidak kamu ungkapkan saja kepadanya?
Aku malu.
Kalau boleh kita bertukar peran sekarang, mungkin aku akan mengungkapkan perasaanku padanya. Aku ini spesies tangguh, yang akan selalu mengejar apa yang aku inginkan. Walaupun pada akhirnya hanya gagal yang ada di tangan, aku tidak pernah menyesal.
Hm, tidak. Cinta wanita menurutku cukup disimpan dalam hati. Paling tidak sementara ini.
Oh, itu memang tergantung prinsip dan mazhab yang kamu imani.
Mazhab?
Iya, aku Keynessian, kamu Adam Smith. Aku percaya harus ada tangan tak terlihat yang menyeimbangkan permintaan dan penawaran. Layaknya cinta, harus ada usaha yang dilakukan oleh salah satu atau keduanya, baik terlihat maupun tak terlihat.
Oh, aku baru ingat. (Aku percaya Tuhan pun bisa dianggap sebagai tangan tak terlihat.)
Dan tak ada yang salah jika kamu memilih mazhab Adam Smith. Jodoh di tangan Tuhan. Kamu tetap bisa dianggap berusaha: berusaha menahan diri; berusaha dengan berdoa.
Iya, selama ini aku berusaha menahan diri.
Itu juga berhubungan dengan seleramu terhadap risiko: Apakah kamu mencintai risiko, atau menghindari risiko?
Hahaha, aku rasa kamu sangat cerdas dalam membuat analogi.
2) Taman Dunia
Hei, kamu, apa istimewanya jatuh cinta? Bukankah perasaan jadi tak menentu, perut terasa tergelitik setiap detik, kadang berbunga-bunga, kadang cemburu.
Bukankah karena bermacam-macam itu jadi semakin menarik?
(Ya, seperti cerita fiksi saja. Aku tak tahu kelanjutannya. Aku tak sabar menunggu episode berikutnya.)
(Kemudian aku meninggalkanmu. Pergi ke sudut jendela.)
Hei kamu, lama tidak menyapamu.
Apa kabar? Sepertinya aku akan sering-sering datang kemari beberapa minggu ke depan.
Aku sedang.... gembira.
Gembira seperti tempo hari kamu tersenyum-senyum sendiri di pedestrian?
Hm, mungkin.
Paling tidak kamu menikmati perjalanan sendirianmu itu, juga tak lagi menghujat kedatanganku, walaupun itu kadang-kadang.
Karena kupikir kedatanganmu membuatku merasa semakin kesepian.
Bukankah kamu sudah terbiasa sendirian?
Mungkin lebih tepatnya kamu sering merepotkanku, hahaha.
Ah, kamu enteng sekali bicara hal itu padaku.
Jangan sedih, aku tidak membencimu, kok. Aku senang kalau kamu datang di sore atau malam hari.
(Kemudian kamu bergelayut, lalu lepas dari gantunganmu, meluncur ke bawah, seolah-olah tidak peduli pada kata-kata penghiburku barusan. Hancur. Melebur dengan percikan satu-satu.)
3) Taman Jiwa
Hei, kamu, kenapa selalu ada di sini?
..............................
..............................
..............................
..............................
..............................
..............................
(Sebenarnya aku lupa apa yang barusan kamu katakan, apa yang barusan aku katakan. Tapi aku ingat kamu selalu ada di sini. Duduk. Bercanda. Bersamaku.)
Secara harfiah mungkin aku selalu bersamamu. Semenjak aku pergi dari sini, ada kamu.
Di mana-mana: di otak, di hati, di mata, di telinga, di hidung, di kulit, di mulut.
Kemudian aku kembali kemari, kamu muncul tanpa diminta. Di mana-mana: di otak, di hati, di mata, di telinga, di hidung, di kulit, di mulut.
Jangan sampai aku berpikir untuk mengkultuskan dirimu.
..............................
..............................
..............................
..............................
(Barusan kamu masuk ke otakku, lalu ke mata dan telinga. Lagi-lagi aku lupa apa-apa yang kamu katakan.)
Aku pikir aku seperti mengulang kata-kataku beberapa bulan belakangan. Persis sekali tingkahmu ini dengan kata-kata sakti itu. Persis. Tapi kenapa rupamu berubah lagi? Sepertinya aku terus mengulang kata-kata itu secara periodik. Mengulang lagi. Mengulang lagi. Seperti lingkaran setan. Sayangnya aku tidak tahu kapan usainya. Aku tidak tahu kapan kamu benar-benar menjadi nyata.
Ada kamu di sini semalam, lusa malam, dan malam-malam sebelum ini. Ada kamu yang sulit menjadi kenyataan.

Jakarta, 13 Januari 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)


