Pages

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

13.8.15

After a While

After a while
you learn the subtle difference between holding a hand and chaining a soul
and you learn love doesn't mean leaning and company doesn't always mean security
And you begin to learn that kisses aren't contracts and presents aren't always promises
and you begin to accept your defeats with your head up and and your eyes ahead
with the grace of a woman, not the grief of a child.

And you learn to build all your roads on today
because tomorrow's ground is too uncertain for plans and futures have a way of falling down in mid-flight.

After a while you learn that even sunshine burns if you get too much
So you plant your own garden and decorate your own soul
instead of waiting for someone to bring you flowers

And you learn that you really can endure,
that you really are strong
and you really do have worth
and you learn
and you learn

with every good-bye you learn


- Jorge Luis Boerges,  translated by Veronica A. Shoffstall

Yang Fana adalah Waktu


Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

- Sapardi Djoko Damono

Puisi yang saya ingat tiap saya sedang menikmati rindu.
(mungkin saya memang seorang masokis)

10.3.15

Loneliness

man is born alone
and, sure, alone he will die

and in between
he makes some acquaintances
and he takes chances

but he is not always conscious
that most of the time
he spends his time alone


- Ekok Djaka

30.6.14

[PUISI] Gede-Pangrango

Angin & kabut telah menyelimuti pepohonan
ketika kaki kita kembali menapak dari singgasana bidadari
Baru saja kita duduk lesehan di sana
dibuai mega yang cahayanya menyinari wajah-wajah kita
Juga bunga-bunga yang manis di Surya Kencana
Imaji rumpun edelweis di Mandalawangi
Jika entah angin apa mampu mempertemukan kita kembali,
masihkah kau seperti dahulu?
Mendongengkanku tentang bunga-bunga mungil yang putih di Lembah Kasih
juga syair-syair tentang serpihan surgawi di perjalanan kita

Aku akan sangat rindu padamu, Gede-Pangrango
Tapak sepatu yang beradu dengan bebatuan terjal berliku
Bulir butir peluh & air mata, selang-seling napas & jantung kita yang menderu
Juga celoteh penghibur & selongsong semangat dari tiap kita
Menerobos misteri yang bergelayut di balik pohon-pohon, di balik batu-batu
Perjalanan ini mengingatkanku pada satu sajak bahwa hidup adalah soal keberanian
menghadapi yang tanda tanya
Kurasakan itu dalam pengembaraanku bersamamu
Kurasakan itu dalam kerinduanku pada Gede-Pangrango


Jakarta, akhir Juni 2014

Dari kiri ke kanan: Mas Fajar, Dian, Mba Bella, Hadi, Mba Lina, Mas Amri

3.2.14

[PUISI] Cinta

Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung

Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa


- SHG, 11 November 1969


1.1.14

[PUISI] Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada


- Sapardi Djoko Damono

2.5.13

[PUISI] Cinta (Monyet)


-Cinta

Kutahu cinta adalah bunga hidup tak terkendali
tumbuh dalam keliaran jiwa yang penuh dengan
kemisteriusan

Hanya saja, di dalamnya
beribu pahatan kenangan
Kala kau tak mengetahui bunga yang akan kuberi
Kala kau hilang dalam kesenjaan
Kala kau menebarkan indahnya alam semesta

Tapi yang aku tahu,
hanya mimpi bersamamu
paling indah….

Bila waktunya tiba,
maukah kau mengelus sedikit rambutku?
Agar aku tidak merasa lenyap
dalam pengembaraanku bersamamu
Agar semua bunga-bunga kisah
tidak terhapus dalam kenangan

Menikmati perasaan cinta kala denganmu
adalah yang terindah
ketika kau dalam kesendirian
dan penuh tanda tanya

----------

Puisi cinta monyet. Saya tulis ketika saya sedang suka-sukanya dengan seorang pria di kelas saya dulu ketika SMP kelas 8, di usia 13. Yah... walaupun bertepuk sebelah tangan dan tak pernah saya ungkapkan kepadanya.

12.3.13

[PUISI] Kenangan Senja



Kira-kira, tiap kenangan datang tak diundang, ada citra bergelayut kabut jingga
Kemudian kita yang lesehan, yang duduk, yang berpelukan, bertatapan, berpagut
Bercerita sajak kanak-kanak, hingga lupa detik-detik buta
Hujan ikut bernyanyi dan merangkum melodi
Melodi-melodi haru aku rindu
Lalu kedua rona bibir akan seiring dengan imaji
dan hati akan penuh dengan tawa atau dera

Kira-kira, tiap kenangan datang tak diundang, serupa kereta kencana tua
tertutup dedaunan dan seserpihan
Kemudian aku datang, mengorek daun-daun, mengorek debu-debu
Burung-burung ikut menari dan merangkum harmoni
Harmoni-harmoni biru aku candu
Lalu kudengarkan lagu
Melodi harmoni rindu berpadu dan menyisakan tanda tanya satu
Adakah aku di semak kencanamu?


Jurangmangu, 12 Maret 2013