Pages

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

30.4.13

Script Film Pendek Metamorfosis

Di bawah ini adalah contoh naskah film pendek yang pernah saya buat. Ide cerita dari Riyan Al Fajri, dikembangkan oleh saya & beberapa teman yang lain. Jika ingin men-download versi pdf-nya, silakan download di sini.










(Insert Title Here)
by
Dian Rizki Hidayati







(7 Oktober 2012)







Draft 2
FADE IN:

1. INT. KAMAR JONI – PAGI – 27 OKTOBER – 07.30 AM

INSERT SUBTITLE: Jakarta, 27 Oktober 2012

Seorang pemuda, Joni, 19 tahun, masih tekun memeluk guling di kamarnya. Matahari sudah menembus tirai-tirai jendela. Kemudian ia dikejutkan dengan suara alarm weker di sebelah ranjangnya.

JONI (VOICE OVER)
(cuci muka, gosok gigi, pakai baju)
Gue Joni, 19 tahun, mahasiswa. Yah, kayak yang lo liat sekarang.  Bangun telat. Mandi telat. Sarapan? Ah, jangan ditanya, deh. Boro-boro sarapan, pernah diajak gebetan gue sarapan aja, gue ngaret 2 jam.

Visualisasi, Joni terlambat datang, salah tingkah. Di meja sudah menunggu seorang gadis.

JONI
(setengah berbisik)
Sori.

Gadis tersebut kemudian melihat jam & melihat Joni secara bergantian, lalu tersenyum dengan dipaksakan.

JONI (VOICE OVER)
Jadi bisa ditebak sekarang. Yak, gue jomblo. Tapi, gue nyantai aja, sih. Hidup untuk dinikmati, cuy.
(Mengambil segepok kertas di meja berjudul “PROPOSAL”, memasukkannya ke tas)
Jangan salah. Proposal tadi titipan temen gue yang aktivis. Kalo gue, mah, haha. Pokoknya, muka gue gak ngeksis sama sekali, deh, seantero kampus—


2. INT. RUANG TV KOSAN – PAGI
Joni melintasi ruang TV. Di TV, sedang disiarkan BERITA tentang DEMO MAHASISWA.

JONI (CONT. V.O.)
Apalagi demo. Jemur-jemuran pagi-pagi. Ah, ogah banget, dah.


3. EXT. JALAN ANTARA KOSAN – KAMPUS - PAGI
Joni kemudian beranjak ke kampus dengan buru-buru. Ramai orang berlalu-lalang.

JONI (CONT. V.O.)
Orang bilang, berubah itu suatu keniscayaan. Ya, pada akhirnya gue berubah, kok. Berubah ke arah yang lebih baik.


4. EXT. KORIDOR KAMPUS - PAGI
Di perjalanan, pandangan Joni sempat teralihkan oleh seorang GADIS CANTIK yang berjalan berlawanan arah dengannya. Terlalu asyik menikmati pemandangan segar tersebut, Joni MENABRAK TIANG koridor kampus. Di belakang gadis cantik itu ternyata segerombolan mahasiswa sedang mengikik melihat tingkah Joni.

JONI (CONT. V.O.)
Sayangnya, bukan ini yang buat gue berubah.


INSERT TITLE:

5. INT. RUANG KELAS – PAGI
SEKUMPULAN MAHASISWA, sekitar 30 orang, berada dalam kelas, sedang menekuni buku-buku dan catatan. Dosen, wanita cantik BERLIPSTIK MERAH, sedang duduk di depan, memeriksa buku dan berkas-berkasnya, kemudian ia seperti melihat sesuatu di antara mahasiswa.

Joni tertidur di meja, mulutnya menganga. Persis seperti tadi pagi saat ia masih di ranjangnya. Kemudian ada WEKER yang disodorkan oleh dosen itu ke telinga. Weker berdering. Joni terperanjat. Wajah ibu dosen sudah terlihat sangat jengkel.

IBU DOSEN
Sepertinya mahasiswa yang rajin satu ini sudah siap kalau saya kasih tugas paper.

Joni masih melongo.

IBU DOSEN
Nilai UTS kamu jelek. Kalau gak mau dapet D di nilai akhir, kumpulin paper-nya besok pagi, ya, pas ada kuliah umum. Temanya tentang pemuda zaman kemerdekaan.

Joni masih tetap melongo. Ibu Dosen berlalu. Kemudian Joni melengos, mengusap wajahnya.

6. INT. KAMAR JONI – MALAM

JONI (VOICE OVER)
(Benda-benda yang disebut Joni bermunculan satu-satu bersamaan dengan kata-kata Joni.)
Kertas. Mi instan. Air mineral. Cemilan. Yak, moga ini cukup buat persediaan perang. Moga aja gue gak ketiduran, kalo gak bisa mampus nilai gue.

Joni duduk bersila di lantai, membongkar buku dan kertas-kertas. Dia menggaruk-garuk kepala, kebingungan.

JONI (CONT. V.O.)
Gila. Mau nulis apaan tentang pemuda zaman kemerdekaan? Nulis tentang mereka perang-perangan? Apa gue nyontek buku sejarah aja, ya.

Beberapa waktu kemudian, Joni mendapat ide. Dia kemudian mengecek laptop, membuka browser, berselancar Google. Joni membuka salah satu situs. Di sana terlihat gambar tentara yang dicoret-coret mukanya. Joni membacanya sekilas.

JONI (CONT. V.O.)
Wah, kalau gue lahir zaman perang begini, gue ikut-ikutan perang juga kali, ya.

Joni membayangkan:

7. EXT. BARAK TENTARA – PAGI
Joni, dengan PAKAIAN TENTARA, muka CORENG-MONTENG, membawa SENAPAN, tertidur sambil duduk, juga dengan mulut menganga.

KOMANDAN
Hei, prajurit! Ayo bangun! Latihan! Latihan!
(menggedor-gedor pintu dan tembok)

Joni terbangun, membuka mata.

8. INT. KAMAR JONI – MALAM
Joni membuka mata, tersadar dari lamunannya.

JONI (VOICE OVER)
Wah, kalo gitu caranya, gue gak bisa tidur nyenyak, dong.

Joni kembali menatap laptop-nya. Tangannya mencoba meraih CEMILAN yang ada di sebelahnya. Tetapi, ada tangan lain di sana. Dan tangan Joni tidak sengaja memegang tangan itu. Joni, dengan mata masih terpaku di layar laptop, meraba-raba TANGAN KERIPUT tersebut. Kemudian Joni menengok. Ternyata, sudah ada seorang KAKEK di ujung hidungnya, berbaju BATIK, memakai BLANGKON.

JONI
(terperanjat)
HUAAAAA!

KAKEK
(terkekeh-kekeh)
Jangan takut, anak muda. Aku ini bukan hantu. Aku manusia, sama seperti kamu.

JONI
(bingung, tidak percaya)
Kakek siapa? Kok, ada di sini? Ini kamar saya, kan?

Kakek itu masih terkekeh-kekeh. Kemudian kakek itu bangkit. Berjalan menuju pintu, kemudian menengok.

KAKEK
Lebih baik kamu ikut aku.

JONI
Saya masih ada tugas, kek. Saya juga gak tau kakek ini siapa.

KAKEK
Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Percayalah, aku akan menunjukkanmu sesuatu yang berharga, sesuatu yang mungkin kamu tak bisa dapatkan dua kali. Kamu bisa lanjutkan tugasmu nanti.

Joni ragu-ragu. Kemudian dia lihat laptop-nya dan kakek itu bergantian. Kemudian, dia putuskan untuk beranjak, mengikuti kakek itu.

Kakek kemudian membuka pintu. Serta-merta sinar putih menerobos masuk kamar Joni. Joni kesilauan.

9. EXT. PINGGIR HUTAN – SIANG
Kakek dan Joni muncul begitu saja di bawah pepohonan perdu di pinggir hutan. Joni kemudian melihat tangannya, anggota tubuhnya, lalu melihat sekeliling. Joni seolah tidak percaya. Dia mengucek-ucek matanya.

JONI
Di mana ini, kek? Saya dibawa kemana ini?

KAKEK
Lihatlah di depan sana.

Sekumpulan pemuda berbaju tentara sedang sibuk memasak, meruncing bambu, memeriksa senapan, dan duduk memainkan peluit.

KAKEK (CONT’D)
Mereka adalah pemuda-pemuda di masa lalu.

Seorang tentara, namanya RIDWAN, lewat dengan membawa panci kecil berisi air, menuju tungku yang terbuat dari batu berbentuk huruf U.

KAKEK (CONT’D)
Kamu tahu pemuda itu? Dia tak lebih dari seorang anak yang tak punya orang tua lagi. Tapi semangatnya dalam berjuang, untuk meraih kemerdekaan, benar-benar bergelora.

Seorang tentara, yang lebih tinggi pangkatnya, mungkin sersan, masuk ke dalam sekumpulan tentara tersebut. Tentara-tentara muda tersebut segera beranjak, kemudian berbaris. Lalu, sersan tersebut berkata-kata sesuatu ke peleton tersebut.

JONI
I.. ini di zaman perang, kek? Saya gak lagi mimpi, kan? Mereka bisa lihat kita, gak, kek?

KAKEK
(terkekeh-kekeh)
Mari kita ke suatu tempat yang luar biasa. Tempat yang belum pernah kamu cicipi suasananya seumur hidupmu ini.

Mereka berdua kemudian lenyap.

10. EXT. HUTAN – SIANG (HUJAN)
Kakek dan Joni muncul dengan tiba-tiba seperti kedipan mata di balik pepohonan. Joni hampir tergelincir. Hutan sangat lembab dan ada tanah yang sedikit lapang yang becek karena hujan.

Di situ, RIDWAN, berseragam lengkap, dengan senapan di tangan, berjalan di depan dengan tempo yang sedikit lambat bersama kawanan tentara yang lain.

Ridwan bergerak menjauhi tanah terbuka sampai suara SENAPAN MESIN memecah suara alam siang itu. Tubuhnya terpelanting, terlumuri lumpur becek seperti kotoran.

Tentara yang lain tiarap. Kakek tetap tenang. Joni terperanjat tanpa bersuara.

SERSAN
Ada serangan! Ada Serangan!

Tiba-tiba, sebuah bom meledak di balik semak, terdengar seperti suara bom atom, yang merontokkan bagian depan peleton tersebut. Beberapa orang di belakang panik berbicara lewat walkie talkie, bersembunyi di balik rerimbunan semak lainnya.

11.         EXT. HUTAN – SEMAK DI BELAKANG TERJADI ADU SENJATA -(HUJAN)

TENTARA 3
Dokter! Segera ke sini! Dokter! Ridwan tertembak!

Senapan mesin terus berkoar-koar.

TENTARA 2
(merebut walkie talkie dari tentara 1)
Dokter! Segera ke sini! Dua orang sudah tertembak! Jaya tertembak!

Suara roket kembali menggelegar. Tanah lumpur bermuncratan, debu-debu berhamburan. Mereka kemudian tiarap. Seorang tentara lain merayap dari belakang.

TENTARA 1
Siapa yang tertembak?

TENTARA 2
Ridwan dan Jaya.

12.         EXT. HUTAN – TITIK DEPAN (HUJAN)
Tentara 1 kemudian kembali merayap ke depan. Lumpur berlepotan mengenai wajahnya. Desingan peluru senapan masih membuat gaduh. Kemudian dia bersembunyi di balik batang kayu yang melintang di dekat tanah lapang. Di situ, Jaya sudah tak bernyawa. Wajah dan matanya sudah kotor oleh cipratan lumpur dan darah. Kemudian Tentara 1 mengintip dari balik batang kayu. Dilihatnya Ridwan sedang tak berdaya, bersembunyi di balik gundukan tanah.

TENTARA 1
Ya, Allah!

Tentara 1 kemudian melihat Sersan yang tak jauh berlindung darinya, tiarap, sambil sesekali menembakkan senapan. Kemudian Tentara 1 kembali merayap ke depan, berlindung di balik gundukan-gundukan tanah dan batang-batang pohon.

13.         EXT. HUTAN – TITIK DEPAN (HUJAN)
Tentara 1 merayap mendekati Ridwan, memastikan bahwa ia masih hidup.

TENTARA 1
Ridwan! Ridwan! Bisa dengar aku?

Ridwan mengerang. Terdengar suara senapan mesin. Cipratan lumpurnya mengenai mereka berdua.

Tentara 1 berlindung, kemudian mengetahui letak si empunya senapan mesin tadi. Dia berada di lubang persembunyian sekitar 10 meter dari tempatnya sekarang. Musuh tersebut tiba-tiba kehabisan peluru. Dia kemudian sibuk mengisi peluru-pelurunya.

Tentara 1 tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ditariknya granat. Kemudian dilemparkannya ke dalam lubang tersebut. Dalam hitungan detik, lubang tersebut meledak.

Tentara 1 bergegas mendekati Ridwan. Ridwan terluka parah, dia tertembak di beberapa tempat, dengan kesadaran yang sudah samar-samar.

TENTARA 1 (CONT’D)
Ridwan! Ridwan!

RIDWAN
(mengerang)
….Jangan…tinggalkan aku. Tolong, jangan tinggalkan aku…

TENTARA 1 (CONT’D)
Aku akan menyelamatkanmu. Kau akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik saja.

14.         EXT. HUTAN – SIANG (HUJAN)
Pemandangan dramatis tersebut menusuk mata Joni, menerobos sel-sel syarafnya. Membuat Joni merinding, bergidik. Terlihat dari wajahnya yang memancarkan ketakutan dan ketegangan.

KAKEK
Ini hanyalah secuplik perjuangan kami dulu yang menginginkan kebebasan. Masih banyak orang lain di luar sana yang mempertaruhkan nyawanya, merelakan dirinya untuk sebuah kemerdekaan. Mereka semua berjuang. Tentara-tentara menerobos peluru. Romusha membanting dan mencabik tulang. Jugun ianfu menukar nyawa dengan kehormatan. Pada akhirnya kemerdekaan pun dapat diraih. Karena itu, betapa tidak bersyukurnya jika kita tidak berjuang, sama kuatnya, sama kerasnya, untuk membangun bangsa ini, melanjutkan perjuangan mereka.

Kemudian semuanya putih. Layar putih. Suara alarm berdering.

15.         INT. KAMAR JONI – DINI HARI – 02.05 AM
Alarm berdering. Joni terbangun dikejutkan alarm yang berteriak itu. Dimatikannya alarm. Dilihatnya jam. Jam 2 lewat 5.

INSERT SONG: INDONESIA PUSAKA (SEBAGIAN BERSUARA MANUSIA SEBAGIAN INSTRUMEN)

Joni kemudian melihat sekeliling. Bingung, tadi mimpi apa bukan. Kemudian dia tersenyum. Tak jadi dipikirkannya. Dia lanjut membuka laptop, mengerjakan tugasnya tadi. Dia tidak tidur lagi malam itu. Semangat—yang entah dari mimpinya atau bukan—sudah memenuhi kepalanya, tak ada ruang lagi untuk kemalasan.

16.         INT. KAMAR JONI – SUBUH – 05.30 AM
Joni merampungkan paper-nya. Sudah di-print, tinggal dijilid. Joni tersenyum. Kemudian dia segera ke kamar mandi, lanjut berwudhu dan sholat.

17.         INT. GEDUNG SERBA GUNA – PAGI
Joni sampai di GSG sebelum waktunya, berbaju rapi, berwajah cerah. Dia melihat beberapa peserta kuliah umum ada yang sudah datang, dan beberapa orang sedang menyiapkan kuliah umum.

JONI (VOICE OVER)
Gue mungkin gak tahu kejadian semalem itu mimpi atau bukan. Tapi, yang gue tahu pasti, mungkin itu dikasih Tuhan buat gue. Thank God, Tuhan bener-bener sayang sama gue.

Joni menghampiri Ibu Dosen yang sedang duduk di kursi depan. Ibu Dosen menerima paper-nya dengan senang hati. Ibu Dosen tersenyum, menepuk pundak Joni. Joni tersenyum.

JONI (CONT. V.O.)
Hidup itu adalah perjuangan. Perjuangan untuk mencapai kebaikan. Karena itulah esensinya manusia hidup, untuk mencapai kesempurnaan dalam hidupnya.

Joni kemudian beranjak dari tempat Ibu Dosen. Dia berhenti sebentar karena di depannya ada gadis cantik yang dilihatnya tempo hari, sedang memandangnya, tersenyum.

JONI (CONT. V.O.)
Emang semua orang gak selalu bisa memulai sesuatu hal dengan baik. Tapi, semua orang bisa menciptakan akhir yang baik dengan perubahan. Dan buat gue, perubahan menjadi lebih baik itu, dimulai dari—

Joni membalas senyum si gadis. Kemudian melangkah mendekati gadis itu.

JONI (CONT. V.O.)
—sekarang.

Joni berkenalan dengan gadis itu. Mereka terlihat bercakap-cakap.

18.         INT. SUATU SUDUT GSG – PAGI
Terlihat sosok kakek dari belakang, ada blangkon dan rambut ubanannya yang khas, terkekeh-kekeh.

A QUOTATION AGAINST A BLACK SCREEN: Kemerdekaan hanyalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad “Merdeka, merdeka atau mati!” – Soekarno

FADE OUT and CREDITS ROLL.

29.9.12

Ideas, Please Come to My Head!

So this morning I planned to write some of short story about love. Feeling stuck because no idea came immediately, I opened my old archive on email & found this short story. Lalu saya tergelitik untuk membagi cerpen lama ini di blog. Karena cerpennya pakai bahasa Indonesia, kali ini saya akan posting dengan bahasa Indonesia dulu, ya. :3

Bagi yang tertarik, silakan membaca cerita pendek saya yang masih jauh dari kesempurnaan ini.

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

CATATAN HARIAN HASAN

Seorang gadis remaja berdiri di antara bangku-bangku di kelasnya. Diperhatikan sekelilingnya, tak ada satu pun kawannya yang bersamanya, diam di dalam kelas yang sepi itu. Kemudian ia hempaskan tubuhnya ke kursi dan mulai mengais-ngais sesuatu di dalam laci meja belajarnya.

Namanya Intan. Intan sedang penasaran. Tadi pagi lagi-lagi ia menemukan berlapis-lapis kertas aneh di laci meja kelasnya. Kemarin dan kemarinnya lagi pun Intan mendapat kertas-kertas tersebut, tapi belum sempat dibacanya. Sekarang pikirannya benar-benar dipenuhi oleh kertas misterius itu. Ada apa gerangan yang tertulis di situ?

Dan Intan pun mulai membaca...

Langit petang begitu indah kali ini. Lapisan jingga melingkupi horizon, dihiasi oleh semburat awan yang malu-malu tampil di atasnya. Angin berdesir. Burung-burung menari. Yang tampak adalah eloknya wajah bumi sore ini. Dan yang lebih indah, ada pelangi di sana. Aku jadi ingat cerita Ibu, ada pelangi berarti ada bidadari selesai mandi. Mandi dari air surgawi.

Barak tentara. Tak ada bidadari di sini. Yang tampak hanya segerombol manusia yang berjuang mencari kebebasan. Semuanya ingin kemerdekaan. Wajah-wajahnya pun dilingkupi semangat perjuangan. Termasuk aku dan Ridwan.

Ridwan adalah sahabatku sejak kecil. Kami suka bertukar pikiran, saling menceritakan tujuan dan impian. Ridwanlah yang membangun semangatku di kala aku hampir lebur dalam keputus-asaan. Ia sanggup menyalakan kembali lentera dalam hatiku. Orang yang selalu ikut tersenyum di saat aku tersenyum.

Mungkin aku belum cukup hanya mengaguminya. Ia seperti bagian dari diriku. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan, jagalah ia sepanjang kehidupan. Pun ingin menjadi orang terbaik baginya.
Wah, sepertinya tulisanku berhenti dulu di sini. Komandan sudah memanggil-manggil kami. Kusambung nanti, ya.

Intan membolak-balik selembar kertas tersebut. Mungkin ini sebuah catatan harian. Bentuk kertasnya biasa. Bentuk tulisannya pun biasa. Isinya yang tidak biasa. Siapakah yang menulis tulisan tidak biasa ini? Intan menyimpan tanya di dalam hati. Ia pun kembali menekuni kertas itu.

Aku lahir di tengah-tengah penjajahan 19 tahun yang lalu. Keluarga kecilku terdiri dari ayah, ibu, aku, dan adik perempuanku, Aisyah. Orangtuaku menamaiku Hasan. Kata orangtuaku, Hasan berarti kebaikan.

Kata orang aku mirip Ayah. Hidung mancung, rahang kokoh, juga sifat tanggung jawabnya. Sayang, hanya 12 tahun aku ikut mengisi kehidupannya. Ayah gugur di medan perang diserang penjajah.

Karena itu Ibu adalah wanita yang kuat. Menjadi tulang punggung sekaligus ibu yang baik bagi kami berdua. Ibu pun sering bercerita pada kami dongeng-dongeng dan cerita rakyat. Sesekali terselip mimpi dan impian dalam dongeng-dongeng khayalannya.

Di sebelah gubukku pun ada orang yang menyimpan banyak mimpi. Dialah Ridwan. Orang yang tetap kokoh walau badai berkali-kali menghantamnya. Bahkan dia tidak punya ibu seperti ibuku yang menceritakan dongeng setiap malam. Tapi jiwanya tetap kaya akan harapan. Seakan-akan dalam dirinya adalah tanah subur yang menumbuhkan impian.

Ridwan pun yang menguatkanku untuk ikut berperang. Setelah lulus dari sekolah rakyat, ia selalu mengatakan ingin meraih kemerdekaan. Katanya, kalau kita merdeka kita bisa hidup lebih baik. Tak ada lagi anak yang berteriak kelaparan karena tak ada yang bisa dimakan. Juga tak ada anak yang merasa kesepian karena orang tuanya gugur menjadi korban penjajahan.

Karena itu kami melakukan perjuangan. Aku bangga lahir di tanah ini, tanah yang sekarang jadi rebutan. Aku bangga punya kawan seperti Ridwan. Dan aku bangga ternyata banyak pula orang seperti Ridwan di negeri ini, punya tekad untuk meraih kemerdekaan. Aku pernah berandai-andai, bagaimana kehidupan anak-anakku, cucu-cucuku, dan cicit-cicitku di masa depan setelah kami raih kemerdekaan. Mungkin mereka dapat hidup lebih aman dan nyaman.

Tapi, apakah kebanggaanku kebanggaan mereka juga?

Intan membaca berkali-kali sebaris kalimat terakhir dalam kertas itu.

Tapi, apakah kebanggaanku kebanggaan mereka juga?

Intan menyadari sesuatu dalam kalimat itu. Mungkin ia telah lupa selama ini ia hidup di negeri yang begitu luar biasa. Dan ia mendapat kesimpulan baru. Mungkin ada seorang kawan yang sengaja membiarkan Intan membaca tulisannya. Atau benar-benar pejuang bernama Hasan seperti di dalam tulisan ini adalah penulisnya. Tapi biarlah. Intan senang membacanya.

Bel berbunyi. Istirahat telah usai. Kelas yang sepi itu berubah menjadi ramai kembali. Intan segera melipat kertas-kertas aneh tadi. Menyimpan impian dua orang pemuda bernama Hasan dan Ridwan itu ke dalam sakunya.

***

Sekolah di sore hari. Senja menyelimuti bumi. Masih terlihat kilau mentari yang sudah runduk di kaki kubah langit. Menyiramkan sinarnya ke sebagian belahan galaksi.

Intan duduk di sudut lapangan. Wajahnya letih dengan bekas peluh yang sudah menguap. Diluruskan tungkainya, memanfaatkan sebaik-baiknya waktu istirahat yang diberikan untuk melemaskan otot-ototnya. Latihan pengibaran bendera tadi benar-benar menguras tenaganya.

Sejenak kemudian Intan teringat sesuatu. Ia merogoh sakunya dan menemukan kertas aneh yang ia temukan tadi pagi. Ia putuskan untuk menyempatkan membaca lanjutannya. Intan pun tenggelam dalam kertas-kertas itu.
Banyak yang kudapatkan dari barak ini. Kawan, guru, maupun orang tua sementara. Yang pasti kami diajar untuk siap bertahan di kerasnya kehidupan. Setiap teriakan, setiap bentakan, semuanya memacu adrenalin kami untuk pembiasaan. Ini bukan apa-apa. Mungkin di peperangan akan banyak hal yang lebih buruk tak terelakkan.

Kami pun merasa semakin erat. Rasa suka, rasa duka, kami rasakan dalam kebersamaan. Semuanya menimbulkan kekukuhan persaudaraan. Banyak cerita di sini. Dan dalam setiap cerita mengandung makna yang dalam bagi kami.

Aku ingat saat-saat pertama aku bergabung dalam barak ini. Suara bentakan tak henti-hentinya meluncur dari mulut Komandan. Apalagi apabila kami melakukan kesalahan. Hukumannya pun dapat menguras tenaga seharian.

Siang malam kukerahkan kekuatan. Berlari. Merayap. Berguling. Semuanya dilakukan agar kami siap menghadapi pertempuran. Jiwa raga kami ditempa. Tapi ada suatu perasaan aneh di dalamnya. Kami diperlakukan demikian, tapi kami tak benci dengan Komandan. Setiap kami berpindah ke tempat lain dengan berbaris, mengayun langkah yang seirama, kami bernyanyi. Dan sering kulihat Komandan bernyanyi bersama kami. Menjalarkan semangatnya ke sanubari setiap prajurit.

Dari itu aku sadar, kami semua punya satu tujuan. Entah aku anak siapa dan ia anak siapa. Kami semua menginginkan kemerdekaan. Kembali teringat di otakku kisah sumpah pemuda. Saat itu hawa persatuan sudah mulai dihembuskan. Kebersamaan dan persaudaraan sudah mulai didengungkan. Dan dari itu semua segala perjuangan menemukan revolusinya.

Mungkin pengalaman ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa di kemudian hari. Baik untukku, untuk kawan-kawanku, keluargaku, maupun orang-orang lain yang pernah hidup di bumi ini. Aku percaya itu. Ya, aku percaya.

Oh, ya. Besok kami akan melakukan penyerangan. Semuanya sudah disiapkan. Semoga penyerangan kami kali ini berhasil.

Intan memasukkan kembali kertas itu ke dalam saku. Teringat olehnya tadi ia sempat menggerutu karena latihan pengibaran bendera hari ini begitu melelahkan. Ah, ternyata belum sebanding dengan usaha para pejuang dahulu.

“Paskib! Kumpul semua!” suara Kak Renny, pembina pasukan pengibar bendera sekolah Intan. Intan pun segera beranjak dari tempatnya duduk. Bergabung dengan kawan-kawannya yang lain.

***

Setelah menyelesaikan semua tugas-tugas sekolahnya, Intan segera membongkar ranselnya. Dicarinya kertas yang tadi pagi kembali ia temukan. Kemarin latihan pengibaran bendera benar-benar membuatnya lelah. Sesampainya di kamar langsung saja ia merebahkan diri di ranjang. Malam ini tidak. Ia masih punya cukup tenaga untuk mendalami kisah di dalam secarik kertas yang ia temukan.

Delapan jam sebelum penyerangan. Peralatan disiapkan dan barang-barang dibereskan. Jangkrik bersahut-sahutan seolah-olah menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Bulan di atas kepala akan menjadi saksi perjuangan kami. Juga langit yang dipenuhi bintang kali ini. Suasana seperti ini mengingatkanku pada keluarga.

Langit musim kemarau delapan tahun yang lalu. Ada aku, Aisyah, Ibu, dan Ayah. Kami memandang langit dari beranda. Ada bulan, juga bintang yang berkelip. Benar-benar indah.

Kupandang kembali langit di luar. Bagaimana kabar Aisyah dan Ibu? Sudah lama tak kujumpai mereka. Setidaknya kami masih melihat langit yang sama.

Ridwan pun sama denganku, memandang langit. Wajahnya damai dalam siraman cahaya bulan. Ketika kuhampiri, ia hanya menunjukkan senyum. Kemudian aku duduk di sampingnya.

“Kau tahu, kenapa bintang-bintang di atas itu begitu indah?” katanya kemudian. Aku menengok ke arahnya. Ia masih lekat dengan langit di atas.

“Karena mereka penuh dengan energi.” ujarnya, masih menatap langit.

“Semakin besar energinya, semakin cantik kelihatannya. Lihatlah di atas sana, mana yang paling menarik perhatianmu? Yang paling terang bukan?”

Aku ikut menatap langit. Di sana, bertabur ribuan bahkan jutaan titik-titik terang yang indah. Mereka berkedip-kedip, menciptakan ritme, bernyanyi dengan cahaya.

“Begitu juga manusia. Kita diciptakan tidak sendirian seperti matahari. Juga tidak terlalu berbeda seperti bulan. Kita seperti bintang.” katanya lagi.

“Energi yang bergelora. Lihatlah bulan itu, ia dapatkan cahaya dari matahari. Sehingga ia kelihatan indah juga. Sedangkan sebenarnya matahari adalah bintang.”

Kubiarkan kawanku itu memuja keindahan langit malam. Bintang di atas sana masih berkedip. Jangkrik pun tetap mengkerik. Dalam hati aku berdoa, semoga bintang kami terus bersinar.

Intan melipat lembar kertas itu. Intan sadar, semakin banyak ia membaca kertas-kertas aneh itu, semakin banyak pula hal-hal yang selama ini terlupakan olehnya ia dapatkan kembali. Disimpannya kertas lusuh itu di dalam rak bukunya. Bercampur dengan kertas-kertas aneh lainnya yang lebih dulu masuk ke sana.

Intan pun bergegas tidur. Ia harap mimpi indah yang akan hadir dalam tidurnya. Mengantarnya menuju pagi. Menjalankan hari-harinya kembali.

***

Intan gelisah. Semenjak kertas yang menceritakan delapan jam sebelum perang yang ia dapatkan beberapa hari yang lalu, tak pernah ada lagi kertas aneh di dalam laci mejanya, walau sudah ia cari seteliti mungkin, sampai merogoh-rogoh sambil berjongkok.

Tetapi pagi ini mungkin kertas itu datang lagi. Begitu terus yang ada di benak Intan. Ia masih percaya kalau kisah di kertas itu ada kelanjutannya. Dan benar saja. Setelah bergelisah hati menunggu kertas aneh itu muncul kembali selama 5 hari, datanglah secarik kertas menjadi jawaban.

Ridwan gugur di medan perang.

Hanya sepenggal kalimat. Sepenggal kalimat yang membuat Intan benar-benar terdiam. Sungguh tak diduga Intan. Ada kesedihan di sana, di dalam kalimat itu. Tiba-tiba muncul sejuta tanya di dalam benak Intan. Apakah yang sudah terjadi di sana? Intan pun masih tak percaya berita ini.

“Kok, wajahmu pucat, In?” tegur kawan sebangku Intan. Dan Intan tak mampu menjawab pertanyaan itu. Dimasukkan kertas yang baru ia temukan ke dalam ranselnya. Mengubur rasa ingin tahunya sejenak, tenggelam di balik buku-buku.

***

Esoknya, Intan kembali menemukan kertas di dalam laci meja. Disimpannya hingga jam sekolah usai. Ditahan hasratnya untuk mengetahui kabar dalam surat itu segera. Ia ingin membaca dalam suasana yang tenang. Sampai pada waktu yang telah ditunggunya, ia pun mulai membaca.

Pagi yang buta. Embun setetes-setetes mengundang riak. Dedaunan membisu. Mungkin selaras dengan hatiku yang kini sedikit beku.

Ah. Aku jadi tak kenal diriku lagi. Bukan diriku jika seperti ini. Mungkin pagi memang masih buta. Tapi sebentar lagi mentari pasti akan membara.

Ridwan, kenapa begitu cepat kau tinggalkan aku di sini?

Dini hari seminggu yang lalu, perang dikobarkan. Suara derap langkah berpadu dengan senapan dan teriakan. Sempat kudengar jerit yang begitu memilukan. Semuanya dalam ketakutan. Tak dapat kubayangkan bagaimana perasaan orang-orang biasa yang terjebak peperangan dahulu, seperti Ayah. Bertumpuk-tumpuk seperti sarden di gorong-gorong demi hidup lebih lama. Yang bisa dilakukan mereka mungkin hanya berdoa, merasa sangat kecil di hadapan Tuhannya.

Perang kemarin pun menyisakan berbagai sejarah. Banyak orang terluka, berdarah-darah. Dan teman terbaikku gugur di dalamnya. Sebelum kematiannya pun ia sempat meneriakkan cita-citanya: “MERDEKA!!!”

Kepalanya yang disimbahi darah, juga badannya yang memar-memar memerah, tak menghalanginya untuk menegakkan kebebasan di tanah air tercinta.

Semua orang berjuang. Dengan tekad membara, dengan semangat berkobar, kami menerjang lawan. Memang belum kami raih kemerdekaan. Tapi kemenangan kecil semalam menjadi semangat besar bagi kami. Ridwan, semangatmu tak akan pernah padam.

Barak tentara. Memang tak ada bidadari di sini. Tapi ada kenangan aku dan Ridwan. Juga kawan-kawan yang lain, yang sama-sama berjuang untuk meraih kemerdekaan. Perjalanan kami masih panjang. Musuh pun belum menyerah dalam perang. Pesan yang selalu terselip dalam doa, semoga keadilan dapat segera ditegakkan. Dapat segera ditegakkan.

Tulisan Hasan berhenti di situ. Ada satu pesan yang tersangkut di benak Intan. Ia harus selalu berjuang. Kertas-kertas aneh yang membawa kebaikan. Ada haru dan romantika persahabatan di dalamnya. Juga semangat juang yang selalu tersirat di setiap baris kalimatnya. Ia jadi ingat, ia harus melakukan yang terbaik di mana pun berada. Termasuk melaksanakan tugas pengibaran bendera di sekolahnya.

Hari-hari ke depan, Intan tak pernah lagi menemukan kertas aneh dalam laci mejanya. Kertas-kertas misterius yang sebelumnya ia simpan di kamarnya--di dalam rak bukunya--pun lenyap tak meninggalkan bekas. Seolah-olah menguap bersama titik embun yang setiap pagi membasahi daun. Tapi Intan tidak cemas. Semangat kedua pejuang dalam kertas tersebut sudah terukir di jiwanya. Mungkin Intan hanya berharap, semoga kertas aneh itu mampir juga ke laci meja kawan-kawannya. Menularkan semangat perjuangan dan cinta akan bangsa lewat tulisan-tulisan harian Hasan.


Bandar Lampung, 2009
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Lucu sendiri kalau membaca karya-karya kita di masa lalu. Jadi ingat proses pembuatan cerpen ini--yang gak akan saya tulis di blog, fufufu.

Masalahnya, saya masih belum dapat ide untuk cerpen cinta saya ini. Oh, God. Doakan saya untuk bisa memenuhi deadline, ya. Saatnya untuk cari-cari ide ke sana ke mari. Mungkin saya akan jalan-jalan sebentar di sekitaran PJMI, menjahili teman-teman satu kosan, atau pun pergi bertapa dulu di kamar *semoga gak ketiduran*. Salam sastra! (҂'̀⌣'́)9