Tiga perempuan sedang berbincang-bincang di suatu ruangan.
A: Kalian berdua, jika harus memilih salah satu, lebih pilih mana, mencintai atau dicintai?
B: Tentu saja dicintai. Tak ada beban. Tak ada rasa sakit.
A: Hahaha, memang itu pilihan yang sedikit egois, tetapi realistis. Bagaimana dengan kau?
C: Aku juga lebih pilih dicintai. Perempuan akan lebih mudah jatuh cinta kepada orang yang mencintainya.
A: Aku rasa benar pendapatmu. Bahkan, mungkin bukan perempuan saja. Manusia pada kodratnya yang paling manusiawi memang mengetahui perasaan cinta dari dicintai terlebih dahulu—oleh Tuhan, orang tuanya, kakek, nenek, paman, bibi, dan lainnya—baru belajar mencintai.
C: Iya. Mencintai pasangan kita juga dapat kita atur sendiri, sedangkan membuat orang lain mencintai kita, itu di luar kuasa kita.
B: Dan laki-laki, cenderung punya perasaan ingin berjuang mendapatkan cinta perempuan. Klop. Cocok. Saling melengkapi. Perempuan mana yang tidak ingin diperjuangkan oleh laki-laki? Walaupun aku yakin idealnya tentu saja keduanya saling mencintai.
C: Lalu bagaimana dengan kau sendiri?
A: Awalnya aku kukuh pada idealismeku untuk mendapatkan kondisi ideal, saling mencintai di saat janji pernikahan diikrarkan. Tetapi, setelah kupikir-pikir, dicintai terlebih dahulu juga merupakan pilihan menarik.
Mereka terkikik-kikik bersamaan.
31.10.15
Nemu di Facebook. Setuju.
Never waste your time trying to convince someone else of your worth. If they can't see it, they are not worth the effort.
If you have to try to convince someone of your worth, that means they don't already know it. And if they don't already know it, how can they value you and the relationship?
If you have to try to convince someone of your worth, that means they don't already know it. And if they don't already know it, how can they value you and the relationship?
13.8.15
25
"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya."
Kutipan tersebut adalah tulisan Suwardi Suryaningrat—atau yang akan dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara—yang dimuat dalam De Express pada medio 1913 dengan judul asli "Als ik een Nederlander was". Akibat tulisannya yang pedas itu, ia diasingkan ke Belanda bersama dengan teman-teman yang membelanya: Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, yang kemudian akan membentuk Tiga Serangkai. Kala itu, Suwardi berusia dua puluh empat, jalan dua puluh lima.
Muhammad menikahi Khadijah dengan mahar dua puluh unta muda pada usia dua puluh lima, usia yang sama ketika Abdullah bin Abdul Muthalib, ayahnya, meninggalkan status yatim pada bayi Muhammad. Juga pada usia dua puluh lima, Facebook yang dikembangkan oleh Mark Zuckerberg berhasil melampaui break even point dan berhasil menjaring lebih dari tiga ratus juta pengguna.
Sementara, saya di sini, pada usia yang akhirnya mencapai dua puluh lima, sedang menulis tulisan di blog dan mulai menampakkan salah satu gejala krisis seperempat baya dengan mulai membanding-bandingkan kehidupan saya dengan orang-orang terkenal di atas. Tapi saya segera tahu diri. Tak perlulah saya mengkhayal untuk jadi berarti di waktu yang sama. Toh, manusia punya ceritanya sendiri-sendiri.
Namun, ucapan-ucapan selamat beberapa hari yang lalu, baik yang disampaikan langsung maupun lewat Whatsapp, entah karena memang ingat dengan tanggal lahir saya ataupun tak sengaja melihat di Sikka, mau tak mau membuat saya merefleksikan apa-apa saja yang telah saya capai di usia yang tak lagi belia ini. Saya lalu ingat pada salah satu target yang selalu jadi penghuni tetap daftar resolusi tiap tahun: saya harus menghasilkan tulisan, baik itu berupa buku ataupun kolom di surat kabar.
Sialnya, jauh panggang dari api, tampaknya belum ada tanda-tanda untuk mencoret target tersebut, untuk digantikan dengan target yang lebih ambisius. Tulisan di blog saja tak rutin dibuat. Pikiran-pikiran random yang kerapkali tak tahu diri kapan munculnya menguap begitu saja atau hanya jadi bahan lamunan. Sering, ide tulisan yang datang tiba-tiba hanya teronggok di aplikasi notes di smartphone tanpa saya tindak lanjuti. Merasa kurang ilmu, merasa belum banyak membaca, merasa kurang pengalaman, tak mau terbuka, menunggu momen-momen menarik di antara rutinitas harian yang monoton, juga menjadi salah empat-lima sebab-sebab saya urung—atau lebih tepatnya—menunda menulis.
Adalah Rainer Maria Rilke, seorang penyair berkebangsaan Eropa yang sajaknya pernah diterjemahkan oleh Chairil Anwar, memberikan nasihat yang begitu menampar saya. Rilke, sebagaimana tulisannya dalam Letters to a Young Poet, menasihati agar penulis muda tak dibutakan oleh hasrat untuk menulis konsep-konsep besar, tapi justru merayakan yang sehari-hari. "Apabila keseharianmu terasa miskin", tulis Rilke, "jangan salahkan kehidupan. Salahkan dirimu. Kau tak cukup memadai sebagai penyair untuk menguak kekayaannya."
Saya menemukan petuah ini ketika blog-walking beberapa hari yang lalu, dengan niat awal mencari hal yang sangat random (dan rahasia) di Google. Sebenarnya nasihat seperti ini pernah bergaung di kepala saya sekian tahun yang lalu. Arswendo Atmowiloto, dalam bukunya Mengarang Itu Gampang, telah berhasil menjerumuskan saya yang kala itu duduk di bangku SMA, masuk ke kelompok orang-orang yang menganggap menulis adalah kegemarannya. Gambaran besarnya sama, tulislah apa yang ada di dekatmu. Seharusnya, saya, sebagaimana lazimnya makhluk yang mampu melihat keadaan meja saat saya menulis tulisan ini, bisa menghasilkan tulisan dari cangkir kopi yang berisi setengah ataupun dari gantungan kunci pemberian teman SMA saya dulu (gantungan kunci boneka hewan yang sampai sekarang saya tidak tahu pasti itu hewan apa, entah tapir, trenggiling, atau anteater si pemakan semut).
Saya telah meremehkan apa-apa yang saya punya di dalam diri saya, sebut saja kenangan masa kecil, atau imajinasi—ini yang paling penting—dan mengatakan saya tak punya inspirasi untuk menulis. Seharusnya, saya bisa meniru Sapardi yang piawai merangkum makna di balik ganjilnya hujan di bulan Juni, atau mampu menciptakan dua baris Tuan setelah melihat ada tamu yang bertandang ke rumahnya. Bahkan, Tetralogi Buru yang legendaris itu ditulis oleh Pram dari balik jeruji penjara. Terkadang, saya menghakimi sisi spiritualitas saya akan hal ini, karena hanya orang-orang yang bersyukurlah yang mampu mencerap hikmah dari tiap hal yang tampak sederhana.
Tampaknya, saya mesti mereka ulang sebab-sebab saya mencantumkan hal-hal terkait kepenulisan ke dalam daftar mimpi saya dan bekerja keras apabila saya serius ingin mewujudkannya. Tak ada yang berhasil dari hal yang tak gigih diusahakan dengan konsisten.
"Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekadar bekerja, kera di hutan juga bekerja."
Kata-kata Buya Hamka di atas seharusnya cukup jadi pelecut saya untuk terus berkarya. Pada akhirnya nanti, saya akan menemukan diri saya apakah akan menjadikan menulis sebagai kebutuhan atau tidak. Apakah akan menjadikannya jalan untuk berarti bagi sesama atau hanya sebagai pengisi ruang kecil yang memperkaya daftar kegemaran. Semoga tidak terlambat pada usia dua puluh lima ini.
Pada usia dua puluh lima, mungkin Zuckerberg bisa berbangga dengan Facebook-nya, sementara CEO Starbucks, Howard Schultz, masih berkutat dengan pekerjaannya sebagai salesman di Xerox. Di belahan dunia lainnya, pada usia yang sama, Kartini & Cornel Simanjuntak mati muda, tapi dengan meninggalkan karya. Tak ada mati yang menguburkan hidup yang berarti.
Selamat ulang tahun, Dian. Semoga berkah. Semangat berkarya. :)
Kutipan tersebut adalah tulisan Suwardi Suryaningrat—atau yang akan dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara—yang dimuat dalam De Express pada medio 1913 dengan judul asli "Als ik een Nederlander was". Akibat tulisannya yang pedas itu, ia diasingkan ke Belanda bersama dengan teman-teman yang membelanya: Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, yang kemudian akan membentuk Tiga Serangkai. Kala itu, Suwardi berusia dua puluh empat, jalan dua puluh lima.
Muhammad menikahi Khadijah dengan mahar dua puluh unta muda pada usia dua puluh lima, usia yang sama ketika Abdullah bin Abdul Muthalib, ayahnya, meninggalkan status yatim pada bayi Muhammad. Juga pada usia dua puluh lima, Facebook yang dikembangkan oleh Mark Zuckerberg berhasil melampaui break even point dan berhasil menjaring lebih dari tiga ratus juta pengguna.
Sementara, saya di sini, pada usia yang akhirnya mencapai dua puluh lima, sedang menulis tulisan di blog dan mulai menampakkan salah satu gejala krisis seperempat baya dengan mulai membanding-bandingkan kehidupan saya dengan orang-orang terkenal di atas. Tapi saya segera tahu diri. Tak perlulah saya mengkhayal untuk jadi berarti di waktu yang sama. Toh, manusia punya ceritanya sendiri-sendiri.
Namun, ucapan-ucapan selamat beberapa hari yang lalu, baik yang disampaikan langsung maupun lewat Whatsapp, entah karena memang ingat dengan tanggal lahir saya ataupun tak sengaja melihat di Sikka, mau tak mau membuat saya merefleksikan apa-apa saja yang telah saya capai di usia yang tak lagi belia ini. Saya lalu ingat pada salah satu target yang selalu jadi penghuni tetap daftar resolusi tiap tahun: saya harus menghasilkan tulisan, baik itu berupa buku ataupun kolom di surat kabar.
Sialnya, jauh panggang dari api, tampaknya belum ada tanda-tanda untuk mencoret target tersebut, untuk digantikan dengan target yang lebih ambisius. Tulisan di blog saja tak rutin dibuat. Pikiran-pikiran random yang kerapkali tak tahu diri kapan munculnya menguap begitu saja atau hanya jadi bahan lamunan. Sering, ide tulisan yang datang tiba-tiba hanya teronggok di aplikasi notes di smartphone tanpa saya tindak lanjuti. Merasa kurang ilmu, merasa belum banyak membaca, merasa kurang pengalaman, tak mau terbuka, menunggu momen-momen menarik di antara rutinitas harian yang monoton, juga menjadi salah empat-lima sebab-sebab saya urung—atau lebih tepatnya—menunda menulis.
Adalah Rainer Maria Rilke, seorang penyair berkebangsaan Eropa yang sajaknya pernah diterjemahkan oleh Chairil Anwar, memberikan nasihat yang begitu menampar saya. Rilke, sebagaimana tulisannya dalam Letters to a Young Poet, menasihati agar penulis muda tak dibutakan oleh hasrat untuk menulis konsep-konsep besar, tapi justru merayakan yang sehari-hari. "Apabila keseharianmu terasa miskin", tulis Rilke, "jangan salahkan kehidupan. Salahkan dirimu. Kau tak cukup memadai sebagai penyair untuk menguak kekayaannya."
Saya menemukan petuah ini ketika blog-walking beberapa hari yang lalu, dengan niat awal mencari hal yang sangat random (dan rahasia) di Google. Sebenarnya nasihat seperti ini pernah bergaung di kepala saya sekian tahun yang lalu. Arswendo Atmowiloto, dalam bukunya Mengarang Itu Gampang, telah berhasil menjerumuskan saya yang kala itu duduk di bangku SMA, masuk ke kelompok orang-orang yang menganggap menulis adalah kegemarannya. Gambaran besarnya sama, tulislah apa yang ada di dekatmu. Seharusnya, saya, sebagaimana lazimnya makhluk yang mampu melihat keadaan meja saat saya menulis tulisan ini, bisa menghasilkan tulisan dari cangkir kopi yang berisi setengah ataupun dari gantungan kunci pemberian teman SMA saya dulu (gantungan kunci boneka hewan yang sampai sekarang saya tidak tahu pasti itu hewan apa, entah tapir, trenggiling, atau anteater si pemakan semut).
Saya telah meremehkan apa-apa yang saya punya di dalam diri saya, sebut saja kenangan masa kecil, atau imajinasi—ini yang paling penting—dan mengatakan saya tak punya inspirasi untuk menulis. Seharusnya, saya bisa meniru Sapardi yang piawai merangkum makna di balik ganjilnya hujan di bulan Juni, atau mampu menciptakan dua baris Tuan setelah melihat ada tamu yang bertandang ke rumahnya. Bahkan, Tetralogi Buru yang legendaris itu ditulis oleh Pram dari balik jeruji penjara. Terkadang, saya menghakimi sisi spiritualitas saya akan hal ini, karena hanya orang-orang yang bersyukurlah yang mampu mencerap hikmah dari tiap hal yang tampak sederhana.
Tampaknya, saya mesti mereka ulang sebab-sebab saya mencantumkan hal-hal terkait kepenulisan ke dalam daftar mimpi saya dan bekerja keras apabila saya serius ingin mewujudkannya. Tak ada yang berhasil dari hal yang tak gigih diusahakan dengan konsisten.
"Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekadar bekerja, kera di hutan juga bekerja."
Kata-kata Buya Hamka di atas seharusnya cukup jadi pelecut saya untuk terus berkarya. Pada akhirnya nanti, saya akan menemukan diri saya apakah akan menjadikan menulis sebagai kebutuhan atau tidak. Apakah akan menjadikannya jalan untuk berarti bagi sesama atau hanya sebagai pengisi ruang kecil yang memperkaya daftar kegemaran. Semoga tidak terlambat pada usia dua puluh lima ini.
Pada usia dua puluh lima, mungkin Zuckerberg bisa berbangga dengan Facebook-nya, sementara CEO Starbucks, Howard Schultz, masih berkutat dengan pekerjaannya sebagai salesman di Xerox. Di belahan dunia lainnya, pada usia yang sama, Kartini & Cornel Simanjuntak mati muda, tapi dengan meninggalkan karya. Tak ada mati yang menguburkan hidup yang berarti.
Selamat ulang tahun, Dian. Semoga berkah. Semangat berkarya. :)
After a While
After a while
you learn the subtle difference between holding a hand and chaining a soul
and you learn love doesn't mean leaning and company doesn't always mean security
And you begin to learn that kisses aren't contracts and presents aren't always promises
and you begin to accept your defeats with your head up and and your eyes ahead
with the grace of a woman, not the grief of a child.
And you learn to build all your roads on today
because tomorrow's ground is too uncertain for plans and futures have a way of falling down in mid-flight.
After a while you learn that even sunshine burns if you get too much
So you plant your own garden and decorate your own soul
instead of waiting for someone to bring you flowers
And you learn that you really can endure,
that you really are strong
and you really do have worth
and you learn
and you learn
with every good-bye you learn
- Jorge Luis Boerges, translated by Veronica A. Shoffstall
you learn the subtle difference between holding a hand and chaining a soul
and you learn love doesn't mean leaning and company doesn't always mean security
And you begin to learn that kisses aren't contracts and presents aren't always promises
and you begin to accept your defeats with your head up and and your eyes ahead
with the grace of a woman, not the grief of a child.
And you learn to build all your roads on today
because tomorrow's ground is too uncertain for plans and futures have a way of falling down in mid-flight.
After a while you learn that even sunshine burns if you get too much
So you plant your own garden and decorate your own soul
instead of waiting for someone to bring you flowers
And you learn that you really can endure,
that you really are strong
and you really do have worth
and you learn
and you learn
with every good-bye you learn
- Jorge Luis Boerges, translated by Veronica A. Shoffstall
Yang Fana adalah Waktu
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.
- Sapardi Djoko Damono
Puisi yang saya ingat tiap saya sedang menikmati rindu.
(mungkin saya memang seorang masokis)
10.3.15
Loneliness
man is born alone
and, sure, alone he will die
and in between
he makes some acquaintances
and he takes chances
but he is not always conscious
that most of the time
he spends his time alone
- Ekok Djaka
and, sure, alone he will die
and in between
he makes some acquaintances
and he takes chances
but he is not always conscious
that most of the time
he spends his time alone
- Ekok Djaka
28.2.15
Orang-Orang yang Mencari
Pengalaman hidup membentuk seseorang, baik itu cara pandang, bentuk kasih sayang, bentuk kepedulian, kemarahan, sikap, cara berkata, dan memilih kata. Semua terbentuk bukan tanpa sebab.
Setiap orang lahir dalam kondisi yang berbeda-beda. Ada yang sebagai anak sulung, anak tengah, anak bungsu, atau anak tunggal. Ada yang memiliki orang tua sejak kecil dan merasakan kasih sayang, ada yang memiliki orang tua tapi tidak pernah mendapat kasih sayang, dan ada pula yang tidak memilikinya sehingga tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang.
Ada yang lahir dengan paras rupawan, ada yang tidak. Ada yang dicaci sejak kecil sebab fisik yang tidak sempurna. Ada yang terus dipuja-puja seolah-olah tiada cacat tiada cela.
Ada yang memiliki keluarga harmonis, lengkap tiada kurang, harta selalu berlebih. Ada pula yang tidak memiliki semua itu. Untuk makan sehari pun perlu mengais seluruh tong sampah untuk diganti rupiah. Baru rupiah diganti dengan sebungkus nasi.
Ada yang masa lalunya bersih-suci-lurus-tertuntun. Ada pula yang masa lalunya hancur berantakan, sebab susila yang tidak terjaga. Hancurnya keluarga, ketiadaan perhatian, atau sebab apapun yang menjadikan masa kecil dan masa lalunya tidak seindah orang lain. Yang membekas dan membayangi kehidupannya hingga saat ini.
Ada yang dididik beragama, ada pula yang tidak. Sehingga, mereka baru melakukan pencarian dengan pertanyaan-pertanyaan kritis di usia dewasa. Ketika orang lain mungkin sudah tidak bertanya lagi mengapa beragama.
Dalam pencarian itu, ada yang menemukan ada pula yang tidak. Ada yang membuat pilihan ada yang membiarkan dirinya mengalir.
Dan aku, aku adalah orang yang selalu kagum dengan orang yang melakukan pencarian. Pencarian tentang hidup mereka yang seungguhnya. Pertanyaan-pertanyaan hidup yang kritis, pemahaman hidup yang sangat jauh dari kata dangkal. Cara mereka memilih sikap dan memilih risiko.
Aku selalu kagum dengan orang yang melakukan pencarian siapa Tuhannya. Bertanya-tanya mengapa manusia saat ini membuat banyak Tuhan sementara mereka adalah manusia yang sama. Akan sangat aneh jika Tuhan ada lebih dari satu dan menciptakan manusia di satu bumi yang sama.
Aku selalu kagum dengan orang yang melakukan pencarian tentang kehidupannya. Kehidupan seperti apakah yang sejati? Sebab, hidup bukan spekulasi. Seseorang tidak akan tahu kematiannya dan apa yang terjadi setelah dia mati. Jika setiap tuntunan menjanjikan surga, sekali lagi hidup bukan spekulasi. Perlu ada pilihan yang diyakini dan konsekuensi yang diambil.
Orang yang mencari apa tujuan hidupnya akan bertanya-tanya mengapa dia diciptakan dalam kondisi yang seperti itu. Kondisi yang mungkin orang lain sama sekali tidak akan pernah merasakannya. Kondisi yang menempatkannya pada barisan orang-orang yang mencari. Orang-orang yang bertanya-tanya adalah orang-orang yang pada akhirnya akan menemukan. Mereka adalah orang-orang yang memilih karena mencari-memahami-menyadari-lantas mengakui. Tidak sekadar menerima saja keyakinan warisan nenek moyang. Orang-orang yang memilih karena paham apa yang menjadi pilihannya. Tidak sekadar doktrin orang-orang yang dianggap alim dan suci.
Orang-orang ini paham betul bahwa tuntunan tidak selalu tercermin pada penganutnya. Ketika orang-orang saling membunuh dan berbantah dengan alasan membela Tuhan, ketika orang menjadikan tuntunannya sebagai benteng dari kesalahannya, ketika orang membenarkan tindakannya dengan dalih ayat suci, dia tidak terpengaruh oleh mereka. Sebab, tuntunan yang benar akan tetap benar. Hawa nafsu pengikutnyalah yang merusak.
Ketika banyak pengikut yang lebih memilih untuk menyesuikan tuntunan itu kepada cara hidup yang disukainya, orang-orang yang mencari dan menemukan akan memilih untuk menyesuikan cara hidupnya kepada tuntunan yang telah dia pilih. Meski dia harus meninggalkan cara hidupnya yang lama. Sangat berbeda, bukan?
Aku selalu kagum dengan orang yang melakukan pencarian. Pencarian yang sangat berisiko. Tidak semua orang mau melakukannya dan lebih merasa aman menerima saja. Maka aku bersyukur, ketika aku menemukan orang-orang yang mencari. Sebab, aku ternyata tidak sendirian.
Semoga pencarian ini menuntun jalan kita di jalan-Nya. Pada setiap langkah kita menuju-Nya, Dia akan mendekat lebih dekat. Dan Dia-lah yang akan menuntun langkah kaki kita. Sejauh kita percaya bahwa kita menuju Dia yang hanya satu. Dia yang menciptakan langit dan bumi. Dia yang menciptakan manusia.
-- Kurniawan Gunadi
Setiap orang lahir dalam kondisi yang berbeda-beda. Ada yang sebagai anak sulung, anak tengah, anak bungsu, atau anak tunggal. Ada yang memiliki orang tua sejak kecil dan merasakan kasih sayang, ada yang memiliki orang tua tapi tidak pernah mendapat kasih sayang, dan ada pula yang tidak memilikinya sehingga tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang.
Ada yang lahir dengan paras rupawan, ada yang tidak. Ada yang dicaci sejak kecil sebab fisik yang tidak sempurna. Ada yang terus dipuja-puja seolah-olah tiada cacat tiada cela.
Ada yang memiliki keluarga harmonis, lengkap tiada kurang, harta selalu berlebih. Ada pula yang tidak memiliki semua itu. Untuk makan sehari pun perlu mengais seluruh tong sampah untuk diganti rupiah. Baru rupiah diganti dengan sebungkus nasi.
Ada yang masa lalunya bersih-suci-lurus-tertuntun. Ada pula yang masa lalunya hancur berantakan, sebab susila yang tidak terjaga. Hancurnya keluarga, ketiadaan perhatian, atau sebab apapun yang menjadikan masa kecil dan masa lalunya tidak seindah orang lain. Yang membekas dan membayangi kehidupannya hingga saat ini.
Ada yang dididik beragama, ada pula yang tidak. Sehingga, mereka baru melakukan pencarian dengan pertanyaan-pertanyaan kritis di usia dewasa. Ketika orang lain mungkin sudah tidak bertanya lagi mengapa beragama.
Dalam pencarian itu, ada yang menemukan ada pula yang tidak. Ada yang membuat pilihan ada yang membiarkan dirinya mengalir.
Dan aku, aku adalah orang yang selalu kagum dengan orang yang melakukan pencarian. Pencarian tentang hidup mereka yang seungguhnya. Pertanyaan-pertanyaan hidup yang kritis, pemahaman hidup yang sangat jauh dari kata dangkal. Cara mereka memilih sikap dan memilih risiko.
Aku selalu kagum dengan orang yang melakukan pencarian siapa Tuhannya. Bertanya-tanya mengapa manusia saat ini membuat banyak Tuhan sementara mereka adalah manusia yang sama. Akan sangat aneh jika Tuhan ada lebih dari satu dan menciptakan manusia di satu bumi yang sama.
Aku selalu kagum dengan orang yang melakukan pencarian tentang kehidupannya. Kehidupan seperti apakah yang sejati? Sebab, hidup bukan spekulasi. Seseorang tidak akan tahu kematiannya dan apa yang terjadi setelah dia mati. Jika setiap tuntunan menjanjikan surga, sekali lagi hidup bukan spekulasi. Perlu ada pilihan yang diyakini dan konsekuensi yang diambil.
Orang yang mencari apa tujuan hidupnya akan bertanya-tanya mengapa dia diciptakan dalam kondisi yang seperti itu. Kondisi yang mungkin orang lain sama sekali tidak akan pernah merasakannya. Kondisi yang menempatkannya pada barisan orang-orang yang mencari. Orang-orang yang bertanya-tanya adalah orang-orang yang pada akhirnya akan menemukan. Mereka adalah orang-orang yang memilih karena mencari-memahami-menyadari-lantas mengakui. Tidak sekadar menerima saja keyakinan warisan nenek moyang. Orang-orang yang memilih karena paham apa yang menjadi pilihannya. Tidak sekadar doktrin orang-orang yang dianggap alim dan suci.
Orang-orang ini paham betul bahwa tuntunan tidak selalu tercermin pada penganutnya. Ketika orang-orang saling membunuh dan berbantah dengan alasan membela Tuhan, ketika orang menjadikan tuntunannya sebagai benteng dari kesalahannya, ketika orang membenarkan tindakannya dengan dalih ayat suci, dia tidak terpengaruh oleh mereka. Sebab, tuntunan yang benar akan tetap benar. Hawa nafsu pengikutnyalah yang merusak.
Ketika banyak pengikut yang lebih memilih untuk menyesuikan tuntunan itu kepada cara hidup yang disukainya, orang-orang yang mencari dan menemukan akan memilih untuk menyesuikan cara hidupnya kepada tuntunan yang telah dia pilih. Meski dia harus meninggalkan cara hidupnya yang lama. Sangat berbeda, bukan?
Aku selalu kagum dengan orang yang melakukan pencarian. Pencarian yang sangat berisiko. Tidak semua orang mau melakukannya dan lebih merasa aman menerima saja. Maka aku bersyukur, ketika aku menemukan orang-orang yang mencari. Sebab, aku ternyata tidak sendirian.
Semoga pencarian ini menuntun jalan kita di jalan-Nya. Pada setiap langkah kita menuju-Nya, Dia akan mendekat lebih dekat. Dan Dia-lah yang akan menuntun langkah kaki kita. Sejauh kita percaya bahwa kita menuju Dia yang hanya satu. Dia yang menciptakan langit dan bumi. Dia yang menciptakan manusia.
-- Kurniawan Gunadi
22.2.15
Mencintai & Dicintai
Suatu pagi di sudut kamar ketika sedang asyik membaca buku.
A: Apa yang akan kau pilih, seandainya kau harus memilih di antara mencintai & dicintai?
B: Pilihan sulit. Aku akan pilih keduanya.
A: Hahaha, tentu semua orang mengharapkan kondisi ideal itu.
B: Tentu. Tak ada jawaban yang lebih baik dibandingkan itu. Mencintai & dicintai ibarat sepasang sayap, akan timpang bila tak ada salah satunya.
A: Bagaimana bila kau harus memilih salah satu?
B: Hm, mungkin aku akan lebih memilih mencintai.
A: Mengapa? Bukankah banyak orang bilang, kebanyakan wanita lebih memilih dicintai ketimbang mencintai?
B: (menerawang) Entahlah. Mungkin karena aku baru bisa merasa dicintai ketika aku mencintai.
Aku tertegun sejenak, lalu kembali tenggelam dalam buku.
A: Suara batin 1
B: Suara batin 2
Ps: Secara random & tidak memedulikan relevansinya, terinspirasi ketika membaca salah satu adegan dalam "Kitab Komik Sufi 2" di bawah ini.
A: Apa yang akan kau pilih, seandainya kau harus memilih di antara mencintai & dicintai?
B: Pilihan sulit. Aku akan pilih keduanya.
A: Hahaha, tentu semua orang mengharapkan kondisi ideal itu.
B: Tentu. Tak ada jawaban yang lebih baik dibandingkan itu. Mencintai & dicintai ibarat sepasang sayap, akan timpang bila tak ada salah satunya.
A: Bagaimana bila kau harus memilih salah satu?
B: Hm, mungkin aku akan lebih memilih mencintai.
A: Mengapa? Bukankah banyak orang bilang, kebanyakan wanita lebih memilih dicintai ketimbang mencintai?
B: (menerawang) Entahlah. Mungkin karena aku baru bisa merasa dicintai ketika aku mencintai.
Aku tertegun sejenak, lalu kembali tenggelam dalam buku.
A: Suara batin 1
B: Suara batin 2
Ps: Secara random & tidak memedulikan relevansinya, terinspirasi ketika membaca salah satu adegan dalam "Kitab Komik Sufi 2" di bawah ini.
17.2.15
Perjalanan
Andai saja dari awal kita sadar bahwa hidup kita di dunia ini adalah sebuah perjalanan panjang, mungkin kita tak akan banyak menghabiskan waktu untuk mampir ke tempat-tempat yang sebenarnya tidak perlu kita kunjungi. Perjalanan yang panjang membutuhkan rencana. Maka duduklah sejenak. Merenung. Berpikir. Mau kemana tujuan kita?
Nantinya, kita akan tahu kondisi seperti apa yang kita inginkan di penghujung hidup kita. Hidup seperti apa yang ingin kita jalani. Kita juga akan tahu bagaimana caranya kita menuju tujuan itu. Apakah lewat darat, laut, atau udara. Apakah dengan pesawat, kapal, atau kereta.
Kita pun akan tahu apakah nanti kita butuh teman perjalanan. Orang-orang dengan tujuan yang sama suatu hari akan dipertemukan. Mereka mungkin akan satu bangku duduk di kereta. Tidak perlu memaksakan diri mencari teman seperjalanan. Mungkin akan ada teman yang mau duduk sebangku dengan kita karena ternyata tujuan perjalanan kita sama dengannya. Mungkin juga ternyata sudah ada orang yang duduk di bangku sebelah kita yang akan menjadi teman seperjalanan. Teman baru, yang mungkin belum kita kenal rupa, tutur, dan lakunya.
Bagaimana jika ternyata tak ada yang mau menemani? Tetap genggam mimpi kita, terus berjalan ke arahnya. Seharusnya kita tahu apapun yang kita miliki dan tidak miliki adalah yang terbaik untuk kita. Dan seharusnya kita tahu, orang yang bisa bersama kita adalah orang yang memang ingin berjalan dengan kita, mengiringi langkah kita sama panjang-pendeknya. Bukan lebih cepat. Bukan lebih lambat. Apalagi lain tujuan.
Andai saja dari awal kita sadar.
Nantinya, kita akan tahu kondisi seperti apa yang kita inginkan di penghujung hidup kita. Hidup seperti apa yang ingin kita jalani. Kita juga akan tahu bagaimana caranya kita menuju tujuan itu. Apakah lewat darat, laut, atau udara. Apakah dengan pesawat, kapal, atau kereta.
Kita pun akan tahu apakah nanti kita butuh teman perjalanan. Orang-orang dengan tujuan yang sama suatu hari akan dipertemukan. Mereka mungkin akan satu bangku duduk di kereta. Tidak perlu memaksakan diri mencari teman seperjalanan. Mungkin akan ada teman yang mau duduk sebangku dengan kita karena ternyata tujuan perjalanan kita sama dengannya. Mungkin juga ternyata sudah ada orang yang duduk di bangku sebelah kita yang akan menjadi teman seperjalanan. Teman baru, yang mungkin belum kita kenal rupa, tutur, dan lakunya.
Bagaimana jika ternyata tak ada yang mau menemani? Tetap genggam mimpi kita, terus berjalan ke arahnya. Seharusnya kita tahu apapun yang kita miliki dan tidak miliki adalah yang terbaik untuk kita. Dan seharusnya kita tahu, orang yang bisa bersama kita adalah orang yang memang ingin berjalan dengan kita, mengiringi langkah kita sama panjang-pendeknya. Bukan lebih cepat. Bukan lebih lambat. Apalagi lain tujuan.
Andai saja dari awal kita sadar.
Random Sebelum Mandi
Mengapa lelah? Sementara Tuhan selalu menyemangati dengan "Hayya alal falah". Bahwa jarak kemenangan hanyalah berkisar kening & sajadah.
-----
Pernahkah berusaha tampil baik ketika menghadap Tuhan? Baju rapi, kulit bersih, pakaian wangi? Pernahkah cemburu ketika ada yang lebih dekat dengan Tuhan? Pernahkah terpikir bagaimana agar Tuhan senang? Apakah selalu senang berbincang dengan-Nya & selalu ingin lama-lama berinteraksi dengan-Nya?
Apakah benar-benar cinta?
-----
Kenapa bilang percaya tapi tidak mempercayakan? Kenapa gelisah sedangkan seharusnya berserah? Kenapa takut mempercayakan hidup pada Pemilik Kehidupan?
-----
Pernahkah berusaha tampil baik ketika menghadap Tuhan? Baju rapi, kulit bersih, pakaian wangi? Pernahkah cemburu ketika ada yang lebih dekat dengan Tuhan? Pernahkah terpikir bagaimana agar Tuhan senang? Apakah selalu senang berbincang dengan-Nya & selalu ingin lama-lama berinteraksi dengan-Nya?
Apakah benar-benar cinta?
-----
Kenapa bilang percaya tapi tidak mempercayakan? Kenapa gelisah sedangkan seharusnya berserah? Kenapa takut mempercayakan hidup pada Pemilik Kehidupan?
5.8.14
Melamun
Akibat cinta tapi belum ada ikatan, berkali-kali rela jantung dihujam rindu–ditikam cemburu.
Hati, sudikah kau mati suri lagi?
Hati, sudikah kau mati suri lagi?
30.6.14
[PUISI] Gede-Pangrango
Angin & kabut telah menyelimuti pepohonan
ketika kaki kita kembali menapak dari singgasana bidadari
Baru saja kita duduk lesehan di sana
dibuai mega yang cahayanya menyinari wajah-wajah kita
Juga bunga-bunga yang manis di Surya Kencana
Imaji rumpun edelweis di Mandalawangi
Jika entah angin apa mampu mempertemukan kita kembali,
masihkah kau seperti dahulu?
Mendongengkanku tentang bunga-bunga mungil yang putih di Lembah Kasih
juga syair-syair tentang serpihan surgawi di perjalanan kita
Aku akan sangat rindu padamu, Gede-Pangrango
Tapak sepatu yang beradu dengan bebatuan terjal berliku
Bulir butir peluh & air mata, selang-seling napas & jantung kita yang menderu
Juga celoteh penghibur & selongsong semangat dari tiap kita
Menerobos misteri yang bergelayut di balik pohon-pohon, di balik batu-batu
Perjalanan ini mengingatkanku pada satu sajak bahwa hidup adalah soal keberanian
menghadapi yang tanda tanya
Kurasakan itu dalam pengembaraanku bersamamu
Kurasakan itu dalam kerinduanku pada Gede-Pangrango
Jakarta, akhir Juni 2014
ketika kaki kita kembali menapak dari singgasana bidadari
Baru saja kita duduk lesehan di sana
dibuai mega yang cahayanya menyinari wajah-wajah kita
Juga bunga-bunga yang manis di Surya Kencana
Imaji rumpun edelweis di Mandalawangi
Jika entah angin apa mampu mempertemukan kita kembali,
masihkah kau seperti dahulu?
Mendongengkanku tentang bunga-bunga mungil yang putih di Lembah Kasih
juga syair-syair tentang serpihan surgawi di perjalanan kita
Aku akan sangat rindu padamu, Gede-Pangrango
Tapak sepatu yang beradu dengan bebatuan terjal berliku
Bulir butir peluh & air mata, selang-seling napas & jantung kita yang menderu
Juga celoteh penghibur & selongsong semangat dari tiap kita
Menerobos misteri yang bergelayut di balik pohon-pohon, di balik batu-batu
Perjalanan ini mengingatkanku pada satu sajak bahwa hidup adalah soal keberanian
menghadapi yang tanda tanya
Kurasakan itu dalam pengembaraanku bersamamu
Kurasakan itu dalam kerinduanku pada Gede-Pangrango
Jakarta, akhir Juni 2014
| Dari kiri ke kanan: Mas Fajar, Dian, Mba Bella, Hadi, Mba Lina, Mas Amri |
3.2.14
[PUISI] Cinta
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa
- SHG, 11 November 1969
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa
- SHG, 11 November 1969
13.1.14
Monolog - Dialog
1) Taman Maya
Hei, kamu, aku sangat menyukai dia.
Astaga, sebegitunya hatimu gundah-gulana karena dia, sampai-sampai menyapaku hanya dengan satu kalimat barusan di pagi buta.
Mungkin karena aku ingin mengungkapkannya tapi tidak bisa?
Rasanya hati dan pikiranmu harus dialihkan ke kerja fisik. Atau, kenapa tidak kamu ungkapkan saja kepadanya?
Aku malu.
Kalau boleh kita bertukar peran sekarang, mungkin aku akan mengungkapkan perasaanku padanya. Aku ini spesies tangguh, yang akan selalu mengejar apa yang aku inginkan. Walaupun pada akhirnya hanya gagal yang ada di tangan, aku tidak pernah menyesal.
Hm, tidak. Cinta wanita menurutku cukup disimpan dalam hati. Paling tidak sementara ini.
Oh, itu memang tergantung prinsip dan mazhab yang kamu imani.
Mazhab?
Iya, aku Keynessian, kamu Adam Smith. Aku percaya harus ada tangan tak terlihat yang menyeimbangkan permintaan dan penawaran. Layaknya cinta, harus ada usaha yang dilakukan oleh salah satu atau keduanya, baik terlihat maupun tak terlihat.
Oh, aku baru ingat. (Aku percaya Tuhan pun bisa dianggap sebagai tangan tak terlihat.)
Dan tak ada yang salah jika kamu memilih mazhab Adam Smith. Jodoh di tangan Tuhan. Kamu tetap bisa dianggap berusaha: berusaha menahan diri; berusaha dengan berdoa.
Iya, selama ini aku berusaha menahan diri.
Itu juga berhubungan dengan seleramu terhadap risiko: Apakah kamu mencintai risiko, atau menghindari risiko?
Hahaha, aku rasa kamu sangat cerdas dalam membuat analogi.
2) Taman Dunia
Hei, kamu, apa istimewanya jatuh cinta? Bukankah perasaan jadi tak menentu, perut terasa tergelitik setiap detik, kadang berbunga-bunga, kadang cemburu.
Bukankah karena bermacam-macam itu jadi semakin menarik?
(Ya, seperti cerita fiksi saja. Aku tak tahu kelanjutannya. Aku tak sabar menunggu episode berikutnya.)
(Kemudian aku meninggalkanmu. Pergi ke sudut jendela.)
Hei kamu, lama tidak menyapamu.
Apa kabar? Sepertinya aku akan sering-sering datang kemari beberapa minggu ke depan.
Aku sedang.... gembira.
Gembira seperti tempo hari kamu tersenyum-senyum sendiri di pedestrian?
Hm, mungkin.
Paling tidak kamu menikmati perjalanan sendirianmu itu, juga tak lagi menghujat kedatanganku, walaupun itu kadang-kadang.
Karena kupikir kedatanganmu membuatku merasa semakin kesepian.
Bukankah kamu sudah terbiasa sendirian?
Mungkin lebih tepatnya kamu sering merepotkanku, hahaha.
Ah, kamu enteng sekali bicara hal itu padaku.
Jangan sedih, aku tidak membencimu, kok. Aku senang kalau kamu datang di sore atau malam hari.
(Kemudian kamu bergelayut, lalu lepas dari gantunganmu, meluncur ke bawah, seolah-olah tidak peduli pada kata-kata penghiburku barusan. Hancur. Melebur dengan percikan satu-satu.)
3) Taman Jiwa
Hei, kamu, kenapa selalu ada di sini?
..............................
..............................
..............................
..............................
..............................
..............................
(Sebenarnya aku lupa apa yang barusan kamu katakan, apa yang barusan aku katakan. Tapi aku ingat kamu selalu ada di sini. Duduk. Bercanda. Bersamaku.)
Secara harfiah mungkin aku selalu bersamamu. Semenjak aku pergi dari sini, ada kamu.
Di mana-mana: di otak, di hati, di mata, di telinga, di hidung, di kulit, di mulut.
Kemudian aku kembali kemari, kamu muncul tanpa diminta. Di mana-mana: di otak, di hati, di mata, di telinga, di hidung, di kulit, di mulut.
Jangan sampai aku berpikir untuk mengkultuskan dirimu.
..............................
..............................
..............................
..............................
(Barusan kamu masuk ke otakku, lalu ke mata dan telinga. Lagi-lagi aku lupa apa-apa yang kamu katakan.)
Aku pikir aku seperti mengulang kata-kataku beberapa bulan belakangan. Persis sekali tingkahmu ini dengan kata-kata sakti itu. Persis. Tapi kenapa rupamu berubah lagi? Sepertinya aku terus mengulang kata-kata itu secara periodik. Mengulang lagi. Mengulang lagi. Seperti lingkaran setan. Sayangnya aku tidak tahu kapan usainya. Aku tidak tahu kapan kamu benar-benar menjadi nyata.
Ada kamu di sini semalam, lusa malam, dan malam-malam sebelum ini. Ada kamu yang sulit menjadi kenyataan.

Jakarta, 13 Januari 2013
1.1.14
Catatan Akhir Tahun
Malam ini malam di mana orang-orang merayakan malam tahun baru, menyulut petasan, menyalakan kembang api. Suara ledakannya terdengar di sana-sini, termasuk di sudut bilik saya. Suara anak-anak kecil ramai di luar. Sempat saya ke beranda untuk mengintip sedikit percik kembang api yang kuning keemasan menyala di langit sembari mengembalikan handuk yang baru dipakai. Lalu saya kembali lagi ke kamar, tak menghiraukan hingar-bingar petasan yang sudah ribut sejak senja tiada.
Saya kemudian ingat dengan berbagai kejadian di hari kemarin, kemarin lusa, dan kemarinnya kemarin lusa. Setahun ini sungguh banyak peristiwa yang berharga untuk dijadikan kenangan. Setahun ini banyak kisah yang bisa dijadikan pelajaran. Kalau ditanya soal tahun paling membahagiakan semenjak saya menyeberangi Bakauheni 3 tahun silam, 2013 mungkin jawaban saya. Bukan soal peristiwa-peristiwa yang saya alami. Bukan soal orang-orang yang saya temui. Tapi tentang diri saya. Tentang saya yang begitu menikmati menjadi diri sendiri di tahun ini.
Sebenarnya bukan perkara istimewa ketika saya bilang ini adalah salah satu tahun paling membahagiakan. Saya pun pernah berkata demikian ketika saya di sekolah dasar dan menengah. Pun akan mengatakan hal serupa di tahun-tahun mendatang, ketika saya mengalami kejadian signifikan yang memengaruhi emosi saya. Toh, setiap kata-kata superlatif yang saya lontarkan mungkin hanya akan menyisakan potongan-potongan kenangan yang tidak utuh karena keterbatasan memori. Otak saya percaya-percaya saja secara pars pro toto bahwa setahun ini sungguh membahagiakan. Tetapi sekali lagi ini bukan karena peristiwa-peristiwa yang saya alami juga orang-orang yang saya temui. Ini karena saya telah menjadi diri sendiri.
Ketika usia saya 16, saya pernah terlibat dalam suatu percakapan kecil dengan guru saya. Waktu itu sudah malam, dan kami bukan sedang duduk di kelas atau pun lapangan apel. Malam itu kami sedang berada di bus studi wisata yang sedang melaju di dataran tinggi kota Bandung, duduk di kursi yang berurutan depan-belakang. Saya senang sekali bertingkah layaknya anak kecil kala itu, apa saja yang menarik dikomentari dan dikagumi. Tetapi Bandung memang begitu memukau malam itu. Lautan kelap-kelip lampu rumah penduduk dari kejauhan yang jarang saya lihat membuka obrolan kecil. Potongan dialog yang saya ingat di antara celotehan beliau, atau lebih tepatnya bisik lirih di kegelapan bus malam itu:
"Kamu tahu, yan, apa yang belum bisa saya raih sampai saat ini?"
"Apa, Bu?"
"Saya belum bisa menjadi diri sendiri."
Sedikit demi sedikit saya mulai mengerti arti kalimat dari guru saya itu. Bahagia karena menjadi diri sendiri menurut saya adalah bahagia karena sudah memerdekakan jiwa dari belenggu ketidakpercayaan terhadap diri sendiri, mungkin juga terhadap orang lain. Dan menjadi diri sendiri versi saya adalah "menjadi diri terbaik saya, be my best-self", melakukan hal baik dengan cara terbaik versi saya. Ketika menjadi diri sendiri, saya bisa berkata, berpikir, bertindak, secara jujur. Dan saya hanya bisa jatuh cinta ketika saya menjadi diri sendiri. Saya baru sadar kenapa saya sempat kesulitan jatuh cinta (oh my God -_-), karena--mungkin--saya tidak menjadi diri sendiri kala itu.
Saya pernah bertemu dengan orang-orang yang begitu bersinar karena mereka menjadi diri "terbaik" mereka. Mereka bukannya tanpa cacat, pun bukan tidak mengetahui mereka ada cacat di mana. Mereka sanggup mengatakan cacat mereka dengan senyum yang lebar dan yakin bahwa hal itu tidak menurunkan kualitas mereka. Mereka baik lewat cara mereka masing-masing.
Oleh karena itu, walaupun hari ini sebenarnya serupa dengan hari-hari biasanya, hanya karena ada momentum yang membuat orang-orang itu sengaja bersorak-sorai bahkan berteriak di jejaring sosial bahwa ini adalah lembaran baru mereka, saya ingin menjadi diri sendiri dengan lebih baik lagi di tahun 2014. Kita tak akan bisa menjadi diri sendiri jika kita tak mengenali diri. Maka langkah pertama yang harus saya lakukan adalah memetakan kembali siapakah diri saya, apa tujuan saya, kapan, dan bagaimana cara mencapainya--walaupun 'bagaimana cara' ini sungguh banyak dan fleksibel, ada banyak jalan menuju roma.
Selamat tinggal 2013. Selamat datang 2014. :)
Jakarta, ditemani secangkir susu
31 Desember 2013
[PUISI] Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada
- Sapardi Djoko Damono
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada
- Sapardi Djoko Damono
12.10.13
Zona Nyaman
Beberapa minggu yang lalu, saya sempat kepikiran soal zona nyaman, soal melanggar batas zona nyaman, dan motivasi di balik perilaku pemberontakan itu. Kenapa seringkali motivator-motivator itu berbicara soal keluar dari zona nyaman? Untuk apa kita mesti bersusah-susah keluar dari zona nyaman kita? Bukankah manusia itu mencari kebahagiaan, bukankah zona nyaman itu merupakan zona di mana dia akan merasa bahagia? Bukankah kebahagiaan itu relatif tiap orang? Dengan begitu, bukankan uang, jabatan, kekuasaan, atau parameter sukses lainnya, yang biasanya didengungkan orang sebagai motivasi untuk keluar dari zona nyaman pun jadi relatif?
Saya kepikiran hal ini ketika saya tengah bersantai di petak ruang tamu kosan sambil menonton drama Korea. Saya bahagia saat itu: bisa tidur-tiduran, makanan delivery tinggal telepon, nonton drama Korea dengan pemeran utama favorit saya si Joo Won, dan bercengkerama atau melakukan kegiatan absurd bersama teman-teman kosan saya. Saya ingat kalau besok ternyata hari Senin, dan saya harus masuk kantor dan rela berdesak-desakan di commuter line pagi dan malam harinya untuk bekerja, sementara teman-teman kosan saya yang lain masih bisa melakukan kegiatan seperti saya di atas sembari menunggu wisuda.
Kantor saya berada di LPDP, komplek Kementerian Keuangan RI, di Lapangan Banteng, Jakarta. Kosan saya di Bintaro, Tangerang Selatan. Untuk menuju kantor, saya harus naik angkot ke Stasiun Pondok Ranji, lalu naik commuter line sampai Tanah Abang, menyambung naik Kopaja 502, dan Kopaja 20. Saya harus bangun pagi setiap hari kerja dan berangkat maksimal jam 6 pagi dari kosan agar tidak terlambat masuk kantor. Commuter line selalu penuh sesak di jam-jam kerja, apalagi semenjak tarif progresif yang murah itu diberlakukan. Pulang kantor lama perjalanan biasanya lebih panjang karena kereta yang disediakan datang setiap 30 menit sekali, tidak seperti kereta pagi yang datang setiap 10 menit sekali, sehingga biasanya saya sampai di kosan dengan range waktu antara jam 19.30 s.d. jam 20.00 jika jam pulang kerja normal, dan lebih malam kalau ngelembur. Rutinitas ini selalu saya lakukan semenjak saya PKL kemarin sampai dengan sekarang saat saya mulai magang di LPDP.
Tiap pulang kantor, saya menyaksikan teman-teman kosan saya sedang bercengkerama satu sama lain atau pun dengan laptopnya sendiri-sendiri. Saya langsung kepikiran betapa enaknya mereka, bisa bersantai-santai di depan TV pada jam itu, tidur bisa lebih lama, tidak berdesak-desakan—saya sering mengistilahkan berdesak-desakan ini dengan frase "padat mirip sarden", padahal kalau dipikir-pikir sarden itu tidak berdesak-desakan—di commuter line, dan keuntungan-keuntungan lainnya yang bermunculan satu-satu di kepala saya pada saat itu. Seringkali, perasaan itu muncul dan membuat motivasi bekerja saya sedikit goyah. Namun, setelah dijalani beberapa lama, saya mulai menikmati rutinitas baru saya tersebut, dan saya sedikit demi sedikit mulai paham maksud dari istilah "menerabas batas zona nyaman" itu.
Saya mulai menikmati saat-saat berebut masuk kereta agar dapat tempat duduk, atau lebih tepatnya agar dapat sedikit ruang untuk berdiri, agar saya tidak perlu menunggu kereta berikutnya lagi. Terkadang, fenomena di dalam kereta itu lucu dan bisa bikin tersenyum. Manusia-manusia kereta sudah terbiasa dengan berdesak-desakan dan bersenggol-senggolan. Kereta bukan lagi sekadar jembatan pergi-pulang. Dan bagi saya, kereta merupakan ruang publik yang mempertemukan dan mendekatkan beragam jenis masyarakat dari berbagai latar. Pengalaman berangkutan-umum-ria ini membuat saya lebih mengenal wajah Jakarta.
Selain itu, ada banyak hal yang dapat saya pelajari di kantor, baik dari hal teknis seperti kegiatan administrasi, maupun inspirasi dari orang-orang yang lebih dahulu berjuang di LPDP. Kegiatan forum group discussion dengan para pakar merupakan kesempatan berharga untuk bertukar pikiran dengan orang-orang hebat itu. Selain itu, LPDP sering mengadakan training untuk karyawan barunya seperti training budaya kerja dan manajemen. Lelahnya naik kereta tidak sebanding apabila saya berandai-andai betapa berlimpahnya ilmu di LPDP untuk digali.
Beruntunglah saya yang dapat menjelajah Bintaro-Jakarta Pusat yang jaraknya sekitar 25 kilometer dalam waktu 90 menit saja berkat kereta. Bayangkan jika saya harus berjalan kaki pulang-pergi setiap harinya. Kereta—yang walaupun keadaannya sekarang masih lebih dekat cacat daripada sempurna—adalah buah dari usaha menerabas zona nyaman manusia di masa lalu. Jika dicocokkan dengan salah satu nilai atau budaya kerja LPDP, menerabas batas zona nyaman dekat dengan nilai “kesempurnaan”.
Lho, mengapa “kesempurnaan”? Apa hubungannya menerabas batas zona nyaman dengan kesempurnaan? Kesempurnaan bukanlah sesuatu yang hakiki karena sifatnya pun relatif. Kita tidak akan tahu keadaan sesuatu itu sudah sempurna atau belum, bisa jadi ada sesuatu yang bisa diperbaiki lagi. Pada akhirnya, yang tersisa dari kesempurnaan adalah usaha kita untuk terus ingin lebih baik. Orang-orang dulu itu, menerabas zona nyamannya untuk tidak hanya duduk diam menyaksikan sesamanya berjalan kaki jauh. Mereka mulai mencipta roda dari batu agar pekerjaan mereka dapat diselesaikan lebih cepat dan mudah. Roda batu itu kemudian berkembang terus menjadi roda kayu, menjadi pedati, dan seterusnya, yang menjadi cikal-bakal kendaraan umum yang berseliweran di jalan raya kita pada hari ini.
Keinginan untuk terus lebih baik, atau dalam istilah bahasa Inggris populer dengan istilah improvement ini pun sering diterapkan dalam manajemen suatu organisasi. Di Jepang, ada istilah kaizen untuk usaha perbaikan terus-menerusnya dengan menjalankan satu siklus PDCA (plan-do-check-action). Di Kementerian Keuangan, termasuk LPDP, ada satu value yang menggelorakan semangat untuk terus lebih baik, “kesempurnaan”. Saya pun sempat terkecoh dengan istilah kesempurnaan ini. Saya pernah ada di suatu masa di mana saya terlalu takut untuk membuat kesalahan dalam bekerja. Namun, setelah beberapa lama bekerja, saya memahami bahwa tidak ada yang salah dengan melakukan kesalahan asalkan kita berusa untuk memperbaikinya terus di hari depan, atau dengan kata lain selalu mengevaluasi apa pun yang telah kita kerjakan.
Akhirnya, setelah mengalami kejadian-kejadian di atas, saya punya istilah sendiri dari "menerabas batas zona nyaman", yaitu "mengekspansi batas zona nyaman". Saya mendefinisikan keadaan tersebut bukan keluar dari zona nyaman saya, tetapi saya memperluas area di mana saya bisa bahagia di dalamnya. Saya melakukan suatu improvement dalam diri saya. Kalau diilustrasikan secara sederhana, kurang lebih maksud saya seperti ini:
Arnold H. Glasow berkata, Improvement begins with I. Semua perbaikan itu berawal dari diri sendiri. Tak ada peradaban yang tidak dihasilkan dari perbaikan terus-menerus dan semua itu selalu berawal dari hal-hal terdekatnya. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila Kahlil Gibran, seorang pujangga yang tersohor hingga abad ini, menggelorakan semangat untuk terus maju menuju kesempurnaan dalam syairnya, yang ternyata kesempurnaan menurutnya pun bukanlah sesuatu hal tanpa haling-rintang—“Maju! Jangan berhenti. Bergerak maju adalah bergerak menuju kesempurnaan. Maju, dan jangan takut dengan duri serta batu-batu tajam dalam kehidupan.“1)
___________
1) March on. Do not tarry. To go forward is to move toward perfection. March on, and fear not the thorns, or the sharp stones on life's path.
26.8.13
Kesengsem
PERHATIAN!
Postingan ini mengandung delusi & kerandoman yang tak dapat diidentifikasi jenisnya maupun dikalkulasi besarannya. Sekali-sekali membuat blog lebih berwarna dengan tulisan sejenis ini mungkin gak ada salahnya, hahaha.
---------------------------------------------------
Akhir-akhir ini saya menyadari suatu hal: kejadian yang lumayan sering membuat saya menggumam bersyukur, "Tuhan, terima kasih atas karya indah luar biasanya!" selain ketika melihat pemandangan alam yang indah menakjubkan, adalah ketika saya mendengar dan menonton performa dari orang-orang yang saya kagumi.
Contohnya ini, Jun Sung Ahn dengan biolanya, main Canon in C versi rock. Udah mainnya jago, mukanya unyu pula, gimana gak kesengsem.
Lalu, ada juga nih yang bikin saya kesengsem (lagi) akhir-akhir ini. Joo Won! Nama lengkapnya Moon Joo Won. Sudah kesengsem dengan dia dari dulu waktu main jadi Gu Majun di drama Korea Baker King Kim Takgu (2010). Padahal dulu di situ dia antagonis perannya, tapi tak sengaja tak dinyana malah kesengsemnya sama dia. Kemarin-kemarin saya baru tahu dia main drama baru, judulnya Good Doctor. Dia jadi dokter yang menderita savant syndrome gitu, lack of social ability but prodigy in particular area. Yah, tapi mau diapain juga, mau jadi polisi, jadi pastry, jadi orang autis sekali pun, tetep aja ganteng. Akhirnya gara-gara cinta lama bersemi kembali, saya mulai menonton drama-drama Joo Won lain yang belum saya tonton sembari nunggu episode baru Good Doctor--yang juga lagi running di Korea--keluar (Oh, ya, seperti biasa, drama Joo Won kali ini pun ratingnya sangat bagus!).
Kemarin sempat preview Ojakgyo Brothers (baca: nonton drama di-skip-skip cuma nonton yang ada Joo Won-nya dulu muahaha), dan Joo Won di situ seperti biasa ganteng kali mak! Gentle! Mana itu pertama kalinya saya nonton drama dia jadi protagonis & normal, sebelumnya kan di Kim Takgu dia antagonis & di Good Doctor dia kena savant syndrome. Entah, ya, kenapa itu kombinasi antara matanya (Saya paling suka fitur wajahnya yang ini! Habis itu bibirnya, terus hidung juga. *semuanya aja*), bibir, hidung, suara, ekspresi, & kepribadian yang dimainkan di dramanya keliatan bagus banget di mata saya, tampan! Sampai-sampai semalam saat saya menyaksikan klip gambar bergerak yang isinya dia bermain peran itu, tanpa sadar saya menyenandungkan puisinya Rangga AADC dengan sedikit modifikasi: "Lalu kali ini aku melihat karya surga dari mata seorang adam..."
Hadeh. Mudah-mudahan saya nanti punya suami yang gantengnya kayak Joo Won & hanya mencintai saya, ya, sebagai istrinya. (Udah aminin aja. :3)
Good bye & have a nice day. Selamat melanjutkan aktivitas!
Edit:
Saya sudah menonton 7 episode pertama Bridal Mask (Gaksital), salah satu dramanya Joo Won juga di tahun 2012. DAN TERNYATA DRAMANYA YANG INI KEREN BANGET, SODARA-SODARA!
Drama kolosal gitu tentang penjajahan Jepang di Korea, liat aja sinopsisnya di internet atau tonton sendiri, gak akan nyesel. Inilah yang bikin saya kagum dengan drama Korea, bikinnya itu serius, niat, total! Drama2nya itu mendekati kelas film layar lebar baik properti, efek, story-line, maupun akting para aktor/aktrisnya. Korean dramas are the best! Pantes ratingnya bagus banget & di drama ini Joo Won menang penghargaan Excelence Award & Popularity Award dari KBS Drama Award! Aduh Bang Joo Won~
Edit++:
Saya akhirnya menyelesaikan drama Joo Won yg sebelumnya saya kira jelek, 7th Grade Civil Servant, ternyata bagus juga sodara2! 
Drama ber-genre romance-comedy ini sukses bikin saya kesengsem sekesengsem-kesengsemnya (lagi) karena selain Joo Won di sini protagonis, normal, romantis seperti biasa tapi lebih kasual, gak seserius/lonely kayak di drama2 dia biasanya, unyu, lucu, nakal gimana gitu, aaaaaaaaaaahhhh 
Tapi memang, saya akui dari segi cerita drama ini ringan, nontonnya bikin kita happy, senyum2 gimana gitu hahaha. Sebelumnya saya agak males nonton drama yg ini. Sebabnya: pertama, saya udah liat komentar orang2 duluan, banyak yg bilang drama ini ibarat 'noda' riwayat kariernya Joo Won yg cemerlang gitu; kedua, saya sempat nonton 5 episode pertama drama ini, awalnya sih oke-oke aja, mana Joo Won cakep banget di drama ini, cute-nya keluar banget tanpa dia harus autis kayak di Good Doctor >_< Jadi bisa liat ekspresi dia seutuhnya, senormal2nya, & banyak adegan di mana dia tidur! Entah kenapa saya suka banget ngeliat Joo Won kalo lagi tidur, pingin dipeluk. >_< Tapi, di episode awal2 itu banyak adegan yg kesannya 'cheap' gimana gitu, gak kayak drama2 Joo Won biasanya deh. Jadinya sempet males lanjutin; ketiga, awalnya saya liat si Choi Kang Hee, lawan mainnya Joo Won di sini, gak cocok banget deh dengan Joo Won, selisih 10 tahun gitu lebih tua. >_<
Eh, berhubung bosen & pingin isi amunisi & asupan gizi Joo Won lagi, ditonton juga deh dramanya. Dan ternyata gak nyesel nontonnya nyampe habis! >_< Kalo dipikir2 gak jelek juga ah, cuma beda genre aja, akting Joo Won sama Choi Kang Hee di sini juga bagus BANGET! Choi Kang Hee lama2 kalo diliat unyu juga, padahal umurnya udah 36-an tuh pas main drama ini, gila awet muda banget! >_<
Dengan begini akhirnya saya resmikan SEMUA drama Joo Won recommended hahaha. Boleh dipilih tonton dramanya, semuanya bagus, semuanya cemerlang & masterpiece:
1. Baker King Kim Takgu -- Gu Majun (antagonis, kesepian, posesif, ahli bikin roti walaupun bukan passion-nya di situ, iri dengan Takgu, ini pertama kalinya kenal Joo Won & suka dia >_<)
2. Ojakgyo Brothers -- Hwang Tae Hee (protagonis, polisi, kesepian, banyak scene romantis tapi lebih banyak dia gak pekanya, posesif & kalo lagi cemburu unyu >_<, cool, pendiam/penyendiri, ramah, gentle BANGET, baik hati banget, hormat & nurut dengan orang tua >_< Sempet jadi the best Joo Won's character versi Dian hahaha)
3. Bridal Mask (Gaksital) -- Lee Kang To (protagonis, polisi & gaksital, kesepian walaupun dari luar terlihat oppa gangnam style, kereeeen pinter berantem *eh kayaknya di semua dramanya Joo Won selain Good Doctor, Joo Won itu karakternya cowok2 atletis yg kalo berantem jago & terlihat keren, kalo lagi marah tetep ganteng gitu >_<*, romantis *yg jarang tersampaikan akibat banyaknya action scene di film ini, gak sebanyak di Ojakgyo Brothers atau pun 7th Grade Civil Servant yg amunisi scene2 so sweet-nya melimpah
)
4. 7th Grade Civil Servant -- Han Gil Ro (protagonis, oppa gangnam style, anak orang kaya, seenak perut semau gue, manja, cute, lucu, unyu, romantis
udah dijelasin di atas ya.)
5. Good Doctor -- Park Shi On (protagonis, autis, jenius, cute, unyu, mukanya beberapa mirip di beberapa scene di 7th Grade Civil Servant, polos banget >_<)
Kalo dilihat dari role2 yg udah diambilnya, Joo Won punya range akting yg luas banget. Joo Won secara harfiah benar2 menjelma menjadi karakter dalam drama yg sedang dia mainkan. Perbandingannya begini: Hwang Tae Hee di Ojakgyo Brothers itu sumpah gentleman abis, tipe cowok baik2 yg sangat menghormati orang lain & orang tua, cowok pendiam yg menyimpan luka dari masa kecilnya sehingga tumbuh jadi orang yg kesepian, terus dibandingkan dengan Han Gil Ro di 7th Grade Civil Servant yg seenak perut semau gue, ekstrovert & pencair suasana, romantis, lucu, konyol, & kekanak2an, terus dibandingin lagi dengan Park Shi On di Good Doctor yg sama sekali gak tau apaan itu namanya cinta apalagi romantis2an, yg autis & gak bisa marah setemperamental dia di drama lain, gak bisa berantem kayak di drama Joo Won lainnya. Pas saya nonton Good Doctor, saya bener2 lupa kalo Park Shi On itu Joo Won, kalo Park Shi On itu orang yg sama dengan Hwang Tae Hee yg gentleman & jago berantem, atau Han Gil Ro yg romantis, atau Majun yg penuh dendam, atau pun Lee Kangto yg heroik (& jago berantem juga haha). Padahal biasanya aktor/aktris itu identik dengan 1 genre, misal komedi ya komedi, kalo main sedih2an gak cocok gimana gitu. Atas keberhasilan Joo Won dalam mengelola range emosinya dalam drama, saya akui Joo Won memang benar2 aktor berbakat.
Looking forward to film barunya Joo Won dengan Kim Ah Jong "Catch Me" nih, romance comedy juga genre-nya. Sama gosip2nya mau main film juga sama Sulli judulnya "Fashion King". Aaaah, Joo Won oppa. Lekaslah kau main film or drama lagi biar daku bisa menikmati dirimu lagi, daku ingin melihat surprise dari dirimu, adegan gimana lagi yg akan kau tampilkan padaku! 
*antara agak sedih, merinding, & mau muntah ngetik kata2 barusan hahahaha*
Oke deh, sekian edit++ kali ini. See you, readers. Joo Won oppa, sementara tipe cowok ideal saya kayak Joo Won oppa loh hahahahahaha 
*merinding lagi*
29.7.13
-- Pak Eko Prasetyo, Direktur Umum Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), ketika melepas kami berlima selesai studi lapangan.Rencanakan hidup kalian. Atur hidup & tentukan tujuan kalian dari sekarang. Lakukan hal-hal yang dapat membuat kalian lebih dekat dengan tujuan kalian tersebut. Jika kalian ingin sukses, kalian tidak hanya butuh intelegensi tetapi juga karakter. Asah itu semua selagi dini. Kalian punya value. Kalian memiliki otak-otak yang cerdas & mental-mental yang tangguh. Tetapi, jika kalian tidak mengarahkan kapal kalian ke tujuan yang benar, kalian akan dapat dikalahkan oleh orang-orang yang value-nya tidak lebih tinggi dari kalian. Mereka akan mengalahkan kalian dengan keberuntungan-keberuntungan yang mereka miliki: kekayaan, keberlimpahan informasi, & teman-teman yang berpengaruh.
20.7.13
Catch Me If You Can
Di bawah ini ada tulisan abang kelas saya dulu di SMA, Bang Fajar Sofyantoro. Abang yang satu ini memang pinter banget. Dulu beliau adalah abang absen saya di kelas X-9 & tergabung dalam beberapa tim mata pelajaran sekolah (orang-orang di sekolah kami yang biasanya mewakili sekolah untuk mengikuti berbagai lomba terkait mata pelajaran tersebut). Sekarang beliau sedang mengambil program S2-nya di Jepang. Simak tulisannya, yuk! Sangat menginspirasi & memotivasi. :)
-------------
Ke luar negerinya nanti kalau kamu mau ambil master atau doktor saja. Ibu ingin kamu kuliah di Indonesia dulu Le.
Begitulah, sederhana saja kekata yang Ibu sampaikan padaku waktu itu. Ketika kelas dua belas sudah di penghujung tahun ajaran, saat semua anak SMA tingkat akhir sedang bersibuk mempersiapkan diri untuk masuk ke jenjang studi selanjutnya. Aku percaya kita berdua punya pemahaman yang sama, bahwa restu orangtua adalah kunci pembuka keberkahan bagi setiap aktivitas dan pilihan-pilihan dalam hidup. Hingga, cukuplah nasihat ini untukku waktu itu, untuk tak lagi tergiur dengan ajakan dari beberapa rekan turut berebut mendaftar universitas di negeri seberang, agar kemudian bisa berfokus dengan ujian yang akan berlangsung waktu itu.
Beberapa tahun berselang, ketika akhirnya aku tertakdir untuk melanjutkan studi di Yogyakarta, dalam sebuah perbincangan di tengah liburan, aku bertanya tentang alasan Ibu mewajibkanku untuk kuliah dulu di Indonesia. Beliau kemudian berkisah tentang kondisi desa kami, desa pinggiran yang bahkan sinyal telepon pun masih timbul tenggelam. Desa kami seperti umumnya desa pinggiran di Indonesia, masih belum banyak warganya yang sadar tentang pentingnya sekolah, apalagi tentang pendidikan yang memerdekakan. Karenanya, beliau ingin agar kami, aku dan kedua saudaraku, bisa belajar banyak ketika kuliah, mengalami sendiri bagaimana sebenarnya keadaan Indonesia yang sesungguhnya, untuk kemudian bisa pulang dan menjadi bagian dari perbaikan. Bagaimana rasanya berbincang dengan mas-mas angkringan tentang mahalnya beras sampai larut, tercoreng mukanya dan terbatuk oleh asap sepeda motor dan mobil yang semakin sesak, meringis ketika hanya bisa terdiam saat melihat nenek renta yang masih berjualan pisang rebus sampai malam. Bukan hanya sekedar membaca Indonesia dari media, bukan hanya sekedar melihat Indonesia dari kejauhan, bukan hanya sekedar mengeluh soal kegelapan, tapi benar-benar bisa hidup di tengah Indonesia. Pemahaman tentang Indonesia sebagai amanah inilah yang hendak beliau tanamkan pada kami, tentang mencintai Indonesia, bukan hanya merasakan pantai-ombak-gunung-matahari terbit dan purnama-nya, tetapi juga merasakan semuanya, memperjuangkannya, mengusahakannya, untuk bisa mencintainya tanpa syarat.
Bukan, aku tidak kemudian bermaksud mengecilkan niatan baik dari rekan-rekan kita yang bersekolah di luar negeri untuk tetap berbakti pada negeri ini. Kita semua sudah sepakat, bahwa pilihan untuk pulang kembali ke Indonesia dan mengabdi di sini, tidak saling menegasikan dengan pilihan untuk tetap berada di luar negeri dan berkontribusi dari jauh. Satu hal yang salah adalah ketika pulang justru menjadi beban atau tetap di luar namun hanya menjadikan kontribusi sebagai retorika semata. Namun menurutku, tetap saja, belajar dan mengalami sendiri itu berbeda dengan sekedar membaca dari portal berita online dan gosip-gosip yang beredar. Aku tidak mau, kita menjadi bagian dari mereka yang hanya tahu soal Indonesia dari media, hanya tahu bahwa di Indonesia ada segudang masalah, namun tidak mau menyingsingkan lengan untuk turun tangan dan membersihkannya. Aku tidak mau, kita menjadi bagian dari mereka yang mengerdilkan pentingnya kontribusi di gerakan mahasiswa hanya karena termakan media yang memalsukan aksi hingga seolah terlihat seperti anarki.
Maka ketika melihat tulisan “Andai saya mendapat beasiswa ke Jepang” menjadi nomor ke dua belas dalam daftar mimpimu malam itu, aku bertekad suatu saat akan mengirimkan surat ini ketika tiba waktu yang tepat.
Ada yang bilang, mungkin dengan setengah bercanda, kalau sekolah di luar negeri itu ibarat jalan-jalan berkedok penelitian. Semoga bukan demikian kita mengartikannya. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu kemewahan sekolah di luar negeri adalah bisa berakrab dengan musim yang tidak ada di negeri sendiri, bisa belajar dari berbagai jenis manusia, bahasa dan budaya atau keajaiban alam yang membuat kita menahan nafas karena tidak ada di Indonesia. Namun, apakah itu pantas menjadi tujuan utamanya? Semoga bukan demikian kita mengartikannya. Karena sekolah diluar negeri itu, bukan hanya soal gengsi dan kebanggaan semata. Namun ada amanah yang mesti dipertanggungjawabkan dalam proses itu. Pun ketika kamu tidak berjodoh dengan beasiswa dari Pemerintah (yang notabene adalah uang milik rakyat), bukan berarti amanah untuk berkontribusi pada negeri ini lepas begitu saja. Karena kontribusi untuk negeri ini bukanlah pilihan, ia adalah kewajiban.
Sekolah di luar negeri, seperti di tempatku sekarang, akan mengajarkan kita untuk bisa melangkah keluar dari zona nyaman dan belajar banyak tentang hidup. Bagaimana menjadi sosok yang open mind dan rendah hati ketika bertemu dengan orang-orang baru, sesederhana seperti bagaimana menyikapi keterbatasan pilihan menu makanan sehari-hari, bagaimana bisa berkontribusi terhadap komunitas sosial di sini, bagaimana bisa bergaul namun masih setia dengan prinsip, berbaur namun tidak melebur, serta masih banyak lagi celah-celah yang perlu kamu persiapkan sebelum datang. Sekali lagi, karena niat kita adalah untuk studi, maka pedoman universal dari guru kita waktu itu patut dicamkan baik-baik : bahwa setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah ruang kelas yang penuh ilmu.
Ada banyak jalan untuk mencapainya, banyak setapak yang bisa kamu pilih untuk menyusulku di sini. Entah kamu mengikuti jalan setapak yang sudah dibuka oleh kakak-kakak kita sebelumnya atau justru memilih meretas jalan baru dan membuka belukar menuju negeri yang masih jarang pelajar Indonesia-nya. Kedua pilihan itu, sekali lagi bergantung kepada niatan dan orientasi kita mencari ilmu. Karena seberapa kuat motivasi itu menancap, ia akan menentukan seberapa sungguh kita mau bekerja keras untuk meraihnya. Kita bisa dan harus mau belajar dari mereka-mereka yang sudah lebih dulu sampai. Agar kemudian kita belajar bahwa jalan menuju ke sana tidaklah bertabur bunga namun dipenuhi dengan kerja keras, kerja keras dan kerja keras. Seberapa banyak cerita yang sudah kamu dengar, seberapa kenyang kamu baca kisah tentang mereka, seberapa sering kamu mengulang narasi-narasi tentang perjuangan mereka menggapai mimpi? Maka dari situ kita bisa belajar, bahwa tidak ada elevator yang membawa kita langsung menuju kesuksesan. Ada anak tangga yang perlu kita daki satu-satu untuk bisa sampai ke atas. Pembeda satu dengan yang lain hanyalah konsistensi dan akselerasi-nya. Ada yang bisa sampai lebih cepat, ada juga yang memilih berjalan agak lambat, ada yang konsisten berjuang sampai atas, ada juga yang tertahan ditengah dan kemudian jatuh ke bawah. Akselerasi dan konsistensi ini, diikat oleh sebuah simpul yang bernama kerja keras, bukan hanya kerja keras yang meletup singkat kemudian padam namun kerja-kerja yang istiqomah dan bertahan hingga mimpi itu ada di genggaman tangan. Ini yang sulit.
Sedikit cerita dariku, ketika dalam sebuah forum sosialisasi beasiswa luar negeri, pembawa acara waktu itu membuka dengan sebuah pertanyaan menarik.
Dari sekitar 100 orang yang hadir di ruangan ini, berapa yang sudah mengantungi nilai TOEFL di atas 550?
Hening, tidak ada yang mengangkat tangan.
Baik, saya turunkan standarnya, lanjut beliau. Berapa dari yang hadir ini yang sedang mengambil kursus atau les untuk persiapan TOEFL?
Satu dua tangan terangkat.
Tidak sampai sepuluh ya? kata beliau. Oke, saya rendahkan lagi, berapa dari rekan-rekan peserta seminar beasiswa luar negeri kali ini yang sedang bersungguh-sungguh belajar bahasa asing?
Beberapa mulai mengangkat tangan, tidak semua, hanya sebagian.
Nah, dari sini, kita bisa menyimpulkan, bahwa belum semua dari kita yang ada di ruangan ini benar-benar mengartikan impian sekolah ke luar negeri sebagai sebuah cita-cita. Sebagian masih mengartikannya hanya sebagai angan dan ingin semata. Apa buktinya? Bagi mereka yang sudah serius menjadikan sekolah ke luar negeri sebagai cita-cita, pasti dia sudah merencanakannya dengan sungguh-sungguh : mempersiapkan sertifikat bahasa asing yang sesuai standar, aktif mencari tahu tentang jurusan yang ada di universitas di negara tujuan, bersemangat mengumpulkan informasi tentang beasiswa dan bersiap dengan persyaratan-persyaratan dan sebagainya.
Bagaimana pendapatmu, cah bagus? How far will you fight for your dreams? Bagaimana denganmu, sudah seberapa jauh persiapanmu? Berapa TOEFL-mu, berapa IPK-mu nanti, bagaimana research-mu dan track record-mu di kampus nanti? Maka persiapkanlah semuanya dengan selalu mengusahakan yang terbaik. Namun aku selalu optimis, kalau bicara tentang kamu, aku yakin bahwa sekali kamu menentukan target maka kamu akan mengusahakannya sampai berpeluh dan berpayah. Aku tunggu kamu di sini, hingga kita bisa berfoto bersama nanti, di bawah Tokyo Tower dengan latar belakang salju yang mulai memutih dan menumpuk di bawah sepatu.
Catch me if you can.
Selamat berjuang, cah bagus!!
***
Diniatkan sebagai nasihat untuk diri sendiri, semoga senantiasa bisa mengejawantahkan syukur itu lewat kerja-kerja produktif nan istiqomah.
Sumber di note facebook (sekalian kalau-kalau ada yang mau kenalan hihi): https://www.facebook.com/notes/fajar-sofyantoro/catch-me-if-you-can/10151670449531948?comment_id=29384516&ref=notif¬if_t=like
Subscribe to:
Posts (Atom)













.jpg)
.jpg)




